- Waktu itu perekonomian negara lagi kacau balau. Pemasukan kantor bosku juga mulai kembang kempis karena
banyaknya orang asing meninggalkan Indonesia, termasuk para klien bosku.
PHK karyawan gak terhindarkan lagi, dah ... termasuk aku.
- Waktu luangku sebagai pengangguran, aku pergunakan buat mempersiapkan surat-surat sebagai syarat kelengkapan pengangkatan Notaris. Padahal juga aku belum tau, tuh ... kapan diangkatnya. Karena setauku selama ini, prosesnya bisa bertahun-tahun dan besar kecilnya dana juga tergantung dari wilayah penempatannya. Seorang teman yang waktu itu sudah jadi notaris di Kertosono, mengaku mengeluarkan dana Rp.75 juta rupiah untuk proses pengangkatannya.
- Baru saja aku menyelesaikan kelengkapan surat-surat yang diperlukan dan istirahat sebentar di Malang sebelum akhirnya cari kerja lagi, eh .... tau-tau surat pengangkatan notarisku keluar dalam waktu beberapa bulan saja dan cukup mengeluarkan dana Rp.200 ribu rupiah saja buat pemasukan kas negara.
- Hore ... akhirnya aku jadi notaris juga. Makasih, Yesus ... ini emang mujizatMu, nih ... Aku gak nyangka bakal secepat ini prosesnya dan gak pake mahal biayanya. Untungnya lagi umurku sudah memenuhi syarat pengangkatan sebagai Notaris (tapi kalo pengangkatanku sebagai PPAT, sich ... nyaris gak terjaring, tuh ... hehehe ...). Ini dia ... kecil-kecil jadi pejabat umum. Piiizzz ...
- Sejak SK (Surat Keputusan)-nya turun, aku harus segera cari kantor karena ada batas waktunya kalo gak mau SK-nya gugur. Waduuuhhh ...
- Tapi Yesus emang oke punya, dah ... Waktu aku ambil SK di Departemen Kehakiman RI, Yesus sengaja pertemukan aku dengan seorang teman yang mertuanya punya tempat di Krian. Letaknya di pinggir jalan raya, di daerah perbankan dan dulunya juga pernah ditempati salah satu bank di sana.
- Bukankah Yesus sangat bertanggung jawab dengan pilihanNya, yaa .... ??? Dan bersama Yesus, gak ada yang terjadi secara kebetulan, yaa ... ??? Haleluyah.
- Sesudah peristiwa Trisakti, aku masih tetap bekerja di Jakarta.
- Tau-tau ada info dari Departemen Kehakiman RI untuk pengajuan wilayah kerja Notaris. Aku ikutan juga daftar ke sana.
- Sebelum berangkat, so pasti doa dulu, nih ... supaya Yesus ikut campur tangan memilihkan wilayah kerja yang tepat buatku.
- Tujuan utamaku, jelas kota Malang, donk ... Tapi pas, lihat daftar tunggunya ... hiiy, ngeri ... saking banyaknya jumlah pendaftar, tuh. Pilihan alternatif lainnya, ya ... Kecamatan Lawang ... dekat sama Kota Malang, udaranya sejuk dan ... bisa mondar-mandir pulang setiap harinya. Asyik ...
- Cuma, pas petugasnya menyebut Kecamatan Krian ... lah, kok, jadi pilihan alternatif juga, ya ... ??? Aku betul-betul gak tau. Padahal cuma beberapa kali aku lewat sana, berhubung dulu ada saudaraku yang pernah kerja di pabrik kertas di daerah sana.
- Akhirnya, toh, aku harus memilih juga buat dituliskan dalam permohonan wilayah kerjaku.
- Aku sudah siap-siap menuliskan kecamatan Lawang, waktu aku mendengar suara dari hati nuraniku yang memberiku pilihan ... mau bikin akta atau mau dingin-dinginan ... ???
- Yesus ... aku langsung protes waktu itu. Krian jauh dari Malang, loh ... udaranya panas dan terutama lagi, aku gak punya siapa-siapa di sana. Tapi lagi-lagi suara itu kembali terdengar ... mau bikin akta atau mau dingin-dinginan ... ???
- Waduuhh ... lemas banget rasanya. Cuma'kan tugasnya notaris memang bikin akta, ya dan aku juga belum jadi lansia yang hobbynya menikmati hari tua di tempat berhawa sejuk. Akhirnya dengan setengah hati, aku menuliskan Kecamatan Krian sebagai pilihan wilayah kerjaku, cuma satu-satunya pula. Huk ... huk ... huk ...