- Di masa-masa sulitku, aku mulai ragu-ragu juga. Apa benar, ya ... suara yang aku dengar waktu aku harus memilih wilayah kerjaku adalah suaraNya? Tapi kenyataannya kenapa justru di Krian, aku gak pernah bikin akta, ya ... ???
- Aku curhat sama Yesus. Dia menanyaiku ... tempo hari sebelum milih wilayah kerja, sudah doa belum ? Sudah, Yesus. Dia bertanya lagi ... trus doanya sama siapa ? Ya, sama Yesus. Dan jawabNya ... ya, sudah.
- Lah, aku cuma dikasih jawaban yang singkat, padat dan jelas. Hehehe ... Tapi justru jawabanNya itu membangkitkan kembali iman percayaku kepadaNya. Ooo ... ternyata masa-masa kesulitanku ini juga terjadi atas sepengetahuan dan seijin Yesus. Dan aku memilih untuk mengambil pelajaran postifnya saja, ya.
- Kalau di masa kecilku, aku pernah mengalami rasanya jadi orang bodoh dan sakit-sakitan dan hasilnya aku jadi bisa berempati terhadap mereka dalam doa, sekarang giliran Yesus sedang mengajariku pengalaman gak punya uang supaya aku juga bisa berempati dengan mereka yang berkekurangan.
- Aku juga belajar mencukupkan diri dalam kekuranganku. Dan belajar berpikir dan bertindak kreatif bersama Yesus. Ternyata ... gak punya uang, bukan akhir dari segalanya, loh ... Zuueerr ...
- Di masa-masa kesesakanku, aku memilih tetap melayaniNya dengan berkhotbah di atas mimbar gereja. Lumayan, nih ... kalau aku diundang berkhotbah, aku masih bisa dapat pemasukan lewat pelayananku ... begitu pikirku.
- Tapi apa yang terjadi ??? Ayah yang menemaniku, memutuskan mengembalikan amplop persembahan dari pihak gereja yang mengundangku. Please, ayah ... aku butuh suntikan dana segar, nih ... hehehe ...
- Ayah bilang, kalo mau fokusku tetap melayaniNya, jangan gabungkan urusan rohani dengan materi. Toh, aku juga bukan full timer yang memang berhak menerima upahku lewat pelayanan. Bukankah Yesus sudah menjadikanku sebagai Notaris dan PPAT untuk memenuhi kebutuhan materiku ... ???
- Iya juga, sih ... akhirnya setiap mempersiapkan bahan khotbah, fokusku jadi gak sama materi yang bakal aku terima, tapi betul-betul fokus sama pelayanan kepadaNya. Terima kasih, ayah ... padahal aku sempat protes juga, tuh, hehehe ...
- Si pengusaha perkebunan masih terus berusaha mengubah keputusanku walau gak berani menghubungiku secara langsung. Karena prinsipku, gak ada lagi pembicaraan tentang aku dan dia selama dia belum bisa menerima pribadi Yesus.
- Yesus ... aku tetap manusia yang gak sempurna. Aku percaya, hanya karena kasihMu yang sempurna saja, yang sanggup membuatku menolak tawaran kelimpahan materi justru pada saat aku mengalami kekurangan materi.
- Dan di saat-saat paling krisis dalam hidupku juga, aku memilih menolak menguruskan surat-surat berharga jutaan rupiah karena bisa berakibat merugikan sesamaku di kemudian hari.
- Yesus ... Aku tau, ujian kesulitan ekonomiku telah kulewati dan sejak saat itu, aku gak pernah lagi mengalami yang namanya kekurangan ekonomi. Aku menang, bukannya karena aku mampu, melainkan aku mau menjalani masa-masa sulit itu bersama Yesus.
- Aku mau masuk dalam proses pembentukan karakterMu untuk terus disempurnakan, sehingga pada saatnya nanti, aku menjadi sempurna ... sama seperti Bapa di surga yang adalah sempurna. Amin.
- Waktu akhirnya aku memilih Krian sebagai wilayah kerja notarisku, aku pikir gak apa-apa hawanya panas dan jauh dari keluarga, yang penting aku bisa bikin akta, nih seperti yang Yesus janjikan. Tapi kenyataannya, gak sama sekali, loh ... Oow ...
- Di awal-awal kerjaku, justru gak ada klien yang datang buat akta atau menguruskan surat-surat melalui aku. Lah ... mampir ke kantorku aja, gak ada.
- Selama ini aku gak pernah tau dan merasakan apa yang namanya kesulitan keuangan. Walaupun aku bukan berasal dari keluarga yang berkelimpahan materi, tapi kalau untuk memenuhi kebutuhan hidupku saja dan keinginanku yang gak neko-neko, pasti selalu ada dan tersedia.
- Tapi aku menolak berhutang.
Karena dalam Amsal 22:7b dituliskan " ... yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi." Berarti kedudukan kita
lebih rendah dari sesama kita, dunk. Dan aku gak mau jadi budak ... karena aku orang yang
merdeka di dalam Kristus. Haleluyah.
- Aku bersyukur karena Yesus memberiku keluarga yang mengasihiku. Mereka selalu siap membantuku bahkan menawarkan tempat di kota masing-masing kalau memang aku berencana pindah dari Krian.
- Bahkan Yesus juga memberiku seorang sahabat sejak aku kuliah notariat yang kemudian sama-sama diangkat jadi notaris. Karena waktu itu sahabatku menjadi salah seorang pengurus daerah Ikatan Notaris Indonesia, dia jadi tau persis wilayah mana saja yang diperkirakan berprospek bagus karena belum ada Notaris dan PPAT-nya. Dan dia menawariku buat menyiapkan kantornya.
- Bahkan di masa-masa info hukum terbaru masih sulit didapat karena sosial media belum berkembang seperti sekarang, sahabatku juga yang memberiku fasilitas setiap ada seminar Notaris dan PPAT yang diselenggarakan di berbagai daerah di Indonesia. Poko'e aku tinggal berangkat saja karena semua sudah dia urus.
- Biaya seminarnya juga gak murah, ooii ... Lah, wong, setiap seminar diadakan di hotel berbintang, je ... dan kalo perlu mengundang presiden untuk membuka acaranya. Acaranya para Notaris dan PPAT se-Indonesia, gitu, loh .... Hehehe ...
- Padahal kalo dipikir-pikir gak ada untungnya dia bersahabat denganku. Lah, wong, dia juga lulusan cum laude dari salah satu universitas negeri terbaik di Indonesia. Malahan justru aku yang sering konsultasi kasus-kasus hukum rumit dengannya. Dia juga gak seiman denganku.
- Tapi memang, ya ... kalo Yesus sendiri yang sudah menjamah hati manusia, gak ada lagi yang namanya hitung-hitungan untung rugi dalam bersahabat.
- Aku merasa sangat kaya karena memiliki orang-orang yang menyayangiku dan begitu peduli denganku. Maafkan aku, ya ... kalo aku tetap memilih bertahan di Krian.
- Aku percaya, rancanganNya buatku adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadaku hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11). Haleluyah.