YESUS MEMPROSESKU SAMPAI TITIK NOL DALAM HIDUPKU (24)
- Di masa-masa sulitku, aku mulai ragu-ragu juga. Apa benar, ya ... suara yang aku dengar waktu aku harus memilih wilayah kerjaku adalah suaraNya? Tapi kenyataannya kenapa justru di Krian, aku gak pernah bikin akta, ya ... ???
- Aku curhat sama Yesus. Dia menanyaiku ... tempo hari sebelum milih wilayah kerja, sudah doa belum ? Sudah, Yesus. Dia bertanya lagi ... trus doanya sama siapa ? Ya, sama Yesus. Dan jawabNya ... ya, sudah.
- Lah, aku cuma dikasih jawaban yang singkat, padat dan jelas. Hehehe ... Tapi justru jawabanNya itu membangkitkan kembali iman percayaku kepadaNya. Ooo ... ternyata masa-masa kesulitanku ini juga terjadi atas sepengetahuan dan seijin Yesus. Dan aku memilih untuk mengambil pelajaran postifnya saja, ya.
- Kalau di masa kecilku, aku pernah mengalami rasanya jadi orang bodoh dan sakit-sakitan dan hasilnya aku jadi bisa berempati terhadap mereka dalam doa, sekarang giliran Yesus sedang mengajariku pengalaman gak punya uang supaya aku juga bisa berempati dengan mereka yang berkekurangan.
- Aku juga belajar mencukupkan diri dalam kekuranganku. Dan belajar berpikir dan bertindak kreatif bersama Yesus. Ternyata ... gak punya uang, bukan akhir dari segalanya, loh ... Zuueerr ...
- Di masa-masa kesesakanku, aku memilih tetap melayaniNya dengan berkhotbah di atas mimbar gereja. Lumayan, nih ... kalau aku diundang berkhotbah, aku masih bisa dapat pemasukan lewat pelayananku ... begitu pikirku.
- Tapi apa yang terjadi ??? Ayah yang menemaniku, memutuskan mengembalikan amplop persembahan dari pihak gereja yang mengundangku. Please, ayah ... aku butuh suntikan dana segar, nih ... hehehe ...
- Ayah bilang, kalo mau fokusku tetap melayaniNya, jangan gabungkan urusan rohani dengan materi. Toh, aku juga bukan full timer yang memang berhak menerima upahku lewat pelayanan. Bukankah Yesus sudah menjadikanku sebagai Notaris dan PPAT untuk memenuhi kebutuhan materiku ... ???
- Iya juga, sih ... akhirnya setiap mempersiapkan bahan khotbah, fokusku jadi gak sama materi yang bakal aku terima, tapi betul-betul fokus sama pelayanan kepadaNya. Terima kasih, ayah ... padahal aku sempat protes juga, tuh, hehehe ...
- Si pengusaha perkebunan masih terus berusaha mengubah keputusanku walau gak berani menghubungiku secara langsung. Karena prinsipku, gak ada lagi pembicaraan tentang aku dan dia selama dia belum bisa menerima pribadi Yesus.
- Yesus ... aku tetap manusia yang gak sempurna. Aku percaya, hanya karena kasihMu yang sempurna saja, yang sanggup membuatku menolak tawaran kelimpahan materi justru pada saat aku mengalami kekurangan materi.
- Dan di saat-saat paling krisis dalam hidupku juga, aku memilih menolak menguruskan surat-surat berharga jutaan rupiah karena bisa berakibat merugikan sesamaku di kemudian hari.
- Yesus ... Aku tau, ujian kesulitan ekonomiku telah kulewati dan sejak saat itu, aku gak pernah lagi mengalami yang namanya kekurangan ekonomi. Aku menang, bukannya karena aku mampu, melainkan aku mau menjalani masa-masa sulit itu bersama Yesus.
- Aku mau masuk dalam proses pembentukan karakterMu untuk terus disempurnakan, sehingga pada saatnya nanti, aku menjadi sempurna ... sama seperti Bapa di surga yang adalah sempurna. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar