Senin, 12 Mei 2014

YESUS MENGAJARIKU KASIH BAPA LEWAT IBU (14)

  • Tidak gampang hidup dengan saudara-saudara yang punya berbagai keunggulan fisik dan kelebihan kemampuan. Semasa usia sekolah kami, setiap kami terima rapor, ayah tidak akan menanyai kami naik kelas atau tidak. Tapi masuk ranking satu atau tidak. 
  • Ayah selalu menyemangati kami untuk selalu menjadi yang terbaik di dalam segala bidang. Alasan Ayah, kalaupun meleset jadi yang terbaik, masih mending jadi yang baik, tapi'kan tidak sampai jadi yang jelek. He ... he ... he ... betul juga, sih ...
  • Kalau saudara-saudaraku yang lain mencapai yang terbaik itu dengan mudah, tapi aku mendapatkannya dengan perjuangan. Aku ingat, setiap kali ada ulangan, biarpun aku sudah belajar keras malam harinya, tapi besoknya jam 2 pagi aku sudah bangun lagi buat belajar. Menurutku, kalau mau dapat nilai bagus, ya ... harus belajar, bukannya menghalalkan berbagai macam cara, termasuk ngerpek, misalnya.
  • Ibu tau perjuanganku menjadi yang terbaik dan dia menghargainya dengan menempatkan aku sebagai yang teristimewa di hatinya.
  • Secara tidak langsung ibu memperkenalkan kasih Bapa sorgawi yang sesungguhnya kepadaku. Aku yang sebetulnya tidak layak dikasihi karena segenap kekurangan dan kelemahanku, tapi kalau aku mau berjuang dan bukannya menyerah pada keterbatasanku, ternyata toh, aku bisa juga mendapatkan kasihnya.
  • Bukankah sesungguhnya kitapun tidak layak mendapatkan kasih Bapa Sorgawi karena segenap dosa-dosa kita ... ??? Tapi dengan pengorbananNya di atas kayu salib, asalkan kita mau percaya  dan menerimaNya sebagai Juru Selamat, kitapun layak disebut sebagai anak-anakNya ... ??? Itulah kasih karunia Tuhan. Haleluyah.

YESUS MEMBERIKU IBU SUPER (13)

  • Ibuku wanita super. Dia punya banyak talenta. 
  • Ibuku seorang ibu rumah tangga yang hebat. Aku ingat, semasa kecil kami, ibu berperan sebagai tukang masak, tukang jahit sekaligus tukang potong rambut bagi kami anak-anaknya. 
  • Ibu juga wanita karier yang handal. Dia seorang pemimpin, baik dalam menjalankan organisasi gereja maupun saat membantu ayah menjalankan perusahaan. Dia jago pidato sekaligus ahli diplomasi. 
  • Dia juga seorang pengkhotbah yang pandai mengulas cerita-cerita Alkitab, yang aku percaya dengan pertolongan Yesus juga, sanggup dibuatnya begitu hidup dan menyentuh hati para jemaat.
  • Padahal pendidikan ibu cuma sampai kelas 2 sekolah dasar saja, loh ... karena ibu berasal dari keluarga yang gak terlalu menganggap penting sekolah tinggi-tinggi, apalagi buat seorang anak perempuan.
  • Ayah bangga sama ibu.
  • Ssst .... Ibu juga seorang primadona. Dia cantik dan pandai bergaul. Kalo pas aku godain ayah, kok ya, ayah gak minder sama banyaknya jumlah pesaing buat memenangkan hati ibu ... Ayah cuma mesam-mesem sambil bilang ... lah, wong sudah terlanjur cinta, je ... (cinta, ni ye ...). Lagipula siapa tau, yang dicari ibu dari seorang cowok ada sama ayah (pe de abis, ni ye ...).
  • He ... he ... he ... ternyata betul juga, loh .... Akhirnya ibu justru memilih ayah. Padahal waktu bertemu ibu, ayah bukan siapa-siapa dan gak punya apa-apa. Lah, wong datang ke Jakarta juga cuma bawa 2 lembar baju yang dimasukkan besek gara-gara gak punya koper, je ...