Jumat, 05 September 2014

YESUS MENGAJARIKU KEMBALI KEHILANGAN SEORANG YANG KUSAYANGI (21)

    • Selain ayah dan ibu, aku punya seorang paman yang kusayangi.
    • Sejak kami masih kanak-kanak, pamanlah yang selalu mengantar jemput kami pulang pergi sekolah. Ssst ... sampai aku duduk di bangku kuliah Sarjana Hukum-pun, kalo ada jadwal kuliah malam hari, paman yang antar jemput aku, loh ... padahal letak kampus persis di belakang rumahku ... Hadeeeuuhhh .... 
    • Paman juga bodyguard kami terhadap berbagai macam ancaman gangguan dari teman-teman cowok yang nakal. Huahahaha ... 
    • Bagi para pengganggu, silakan pilih, dah ... mau pakai cara halus (ibu yang maju lebih dulu dengan keahlian diplomasinya menghadap kepala sekolah) atau ... mau pakai cara kasar (paman yang akan langsung bertindak di lapangan). Wow ... Intinya, kami amat sangat dilindungi oleh keluarga.
    • Paman tinggi besar dan berkulit gelap, ooiii ... Paman juga senang memangkas cepak rambutnya. Itu, loh ... seperti potongan rambutnya para aparat keamanan. Aku tidak pernah takut pergi bersama paman kemanapun dan kapanpun juga. Preman jaman sekarang juga bakalan mikir-mikir, dah ... kalo mau ngadepin paman. Apalagi cuma teman sekolahku yang masih unyuk-unyuk. 
    • Paman juga ahlinya dalam berbagai hal ... pertukangan ... perkebunan ... permobilan ... sampai jago masak, loh ... Aku suka nasi goreng buatan paman. Hmmm ... lezaaatttt ...
    • Aku belajar arti 'kasih' sesungguhnya dari seorang paman yang sangat sederhana. Pendidikannya memang gak tinggi dan dia cuma bisa duduk di kursi jemaat setiap beribadah di hari minggu. Tapi paman memilih melayani dengan langsung banyak berbuat kasih di tengah keluarga dan lingkungan sekitarnya. 
    • Bahkan paman memaksa tetap mengantarku memenuhi undangan khotbah di saat dokter sudah memvonisnya menderita kanker hati (sirosis) dan hanya sanggup bertahan hidup beberapa bulan saja.
    • Aku tau persis rasanya kehilangan seorang yang aku sayangi sejak aku kehilangan ibu. Dan aku gak mau kehilangan paman. Yesus ... terus terang waktu itu, dalam doa, aku membujukMu bahkan memaksaMu terus menerus buat menyembuhkan paman. Paman harus sembuh ... paman gak boleh pergi dariku.
    • Aku lupa ... mujizat itu miliknya Yesus ... Terserah Dia mau memberikan kepada siapa ... di mana dan kapan waktunya. Memang ada yang mendapatkan mujizat kesembuhan, tapi ada juga yang harus berpulang. Itu sudah menjadi rahasiaNya. Yang pasti, keputusanNya selalu tepat buat masing-masing kita. 
    • Tapi kalo kita mau tetap punya tubuh sehat sampai saatnya kita pulang kembali padaNya, ya ... itu sudah jadi bagian kita dengan terus berjuang menjalankan pola hidup dan pola makan yang sehat sepanjang hidup kita.
    • Akhirnya memang aku harus tunduk pada keputusanNya. Aku gak boleh egois. Sudah sekian lamanya, aku hidup bersama paman, mendapatkan limpahan kasih, perhatian dan perlindungannya. Sekarang sudah saatnya Paman kembali kepada Yesus. Aku harus relakan Paman. 
    • Dan ... lagi-lagi, sama seperti ibu, pamanpun harus berpulang karena pola hidup dan pola makan yang salah. Sudah amat sangat terlambat baginya untuk memperbaiki diri dari awal. Organ-organ dalam tubuhnya sudah terlanjur rusak. Memang penyesalan seringkali selalu datang terlambat ketika semuanya sudah tidak bisa diperbaiki lagi.
    • Bahkan sampai saat-saat akhir hidupnya, paman selalu menasehati teman-temannya untuk tidak meniru kebiasaan buruknya selama ini.
    • Ketika kita dihadapkan kenyataan kalo seorang yang kita kasihi menderita sakit yang bisa berujung kepada kematiannya, seringkali kita cuma fokus berjuang bagi kesembuhannya saja tapi lupa mempersiapkan yang bersangkutan, untuk kembali pulang kepangkuanNya.
    • Bagi kita anak-anakNya, berpulang bukanlah sesuatu yang menakutkan. Lah ... wong, jelas tujuan akhirnya pulang kembali ke rumah Bapa di sorga, kok ... Kenapa harus takut ... ??? Cuma memang orang-orang yang mau ditinggalkan ini yang seringkali masih gak rela.
    • Berjuang bagi kesembuhan orang yang kita sayangi memang penting, tapi terlebih penting mempersiapkannya untuk bertemu kembali dengan Yesus di sorga. " ... TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN !" (Ayub 1: 21).

    YESUS MENGAJARIKU PEDULI SEBAGAI WARGANEGARA (20)

    • Berburu dengan waktu gak berhenti sampai di situ saja. 
    • Aku harus mengikuti penelitian khusus (litsus) di Surabaya sebagai salah satu syarat pengangkatan notaris. Penelitian dibagi 2 tahap, yaitu tahap tertulis dan lisan (wawancara) dalam waktu berbeda.
    • Pada tahap tertulis, kami dibagikan lembar-lembar soalnya. Waduuuhhh ... Pas aku baca, langsung puyeng mendadak, ooii ... Lah, semua pertanyaannya tentang berbagai peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia,  je ... Gak pake dijelasin kronologinya lagi, cuma dicantumkan tempat dan tanggal peristiwa. Gak ada pilihan jawaban, tapi disuruh menjelaskan sendiri pendapatku tentang peristiwa tersebut. 
    • Lah ... gimana mau jelasin, kalo peristiwa tentang apa juga aku gak tau. Waduuuhhh ... gak bisa main tebak-tebakan, nih ...
    • Maklum ... selama ini kalo koran datang setiap hari, yang aku baca cuma berita hiburannya, jeee .... Bagiku peristiwa yang terjadi di tengah-tengah bangsa ini bukan urusanku, 'kan sudah ada pemerintah? Ngapain repot-repot ngikutin ??? Hehehe ... kena batunya sekarang ...
    • Akhirnya semua pertanyaannya, aku jawab gak tau aja, dah ... (karena memang benar-benar gak tau). Pengawasnya kaget begitu melihat lembar jawabanku kosong gak terisi. Dia langsung memvonis, kalo aku sudah gagal total di penelitian tertulis. 
    • Harapanku satu-satunya cuma pada penelitian lisan (wawancara) saja dan harus berhasil 100% atau silakan siap-siap saja buat makalah yang nanti ditentukan sama tim penelitinya. Dan itu berarti butuh tambahan waktu lagi. Padahal aku lagi dikejar-kejar batas waktu buat melengkapi berkas pengangkatanku.
    • Yesus ... ampuni aku, ya ... Selama ini memang aku sudah bersalah dengan sikap masa bodohku. Bukankah firmanMu juga berkata " ... dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29 : 7b). Kelangsungan bangsa dan negara ini juga terletak di tangan anak-anakMu yang mau mengambil bagian dalam doa, walau gak terlibat secara langsung dalam menjalankan roda pemerintahan.
    • Waktu yang cuma tersisa beberapa hari sebelum tahap wawancara, aku pergunakan belajar dari buku-buku lamaku semasa kuliah dan SMA dulu. 
    • Akhirnya datang juga hari penentuan itu. Dan ... tingkat kesulitannya sama saja seperti penelitian tertulis tempo hari. Malahan sekarang ditambah lagi beban harus benar semua jawabannya. 
    • Tapi emang gak percuma mengandalkan Yesus, loh ... Dia gak cuma ahli di bidang kerohanian saja, tapi di bidang ketatanegaraanpun .... Dia ahlinya, dah ... 
    • Semua pertanyaan dari penguji, bisa aku jawab dengan hikmat dari Yesus. Dia ingatkan kembali bahan-bahan pelajaran yang sudah aku pelajari dan ditanyakan oleh penguji. Malahan ada satu pertanyaan sulit yang hampir gak bisa aku jawab, Yesus jelaskan hubungan sebab akibatnya sekaligus dasar-dasar hukumnya seperti ditulis dalam sebuah layar besar yang bisa aku baca di alam pikiranku.
    • Hasilnya ... penguji sangat puas dengan setiap jawabanku dan di akhir wawancaranya, dia sempatkan berdiri sambil menyalami aku ... selamat ... selamat ... Dan ... akhirnya ... sukseslah aku mengirimkan hasil litsusku ke departemen kehakiman sebelum batas akhir waktunya. Terima kasih, Yesus ...