- Di masa-masa sulitku, aku mulai ragu-ragu juga. Apa benar, ya ... suara yang aku dengar waktu aku harus memilih wilayah kerjaku adalah suaraNya? Tapi kenyataannya kenapa justru di Krian, aku gak pernah bikin akta, ya ... ???
- Aku curhat sama Yesus. Dia menanyaiku ... tempo hari sebelum milih wilayah kerja, sudah doa belum ? Sudah, Yesus. Dia bertanya lagi ... trus doanya sama siapa ? Ya, sama Yesus. Dan jawabNya ... ya, sudah.
- Lah, aku cuma dikasih jawaban yang singkat, padat dan jelas. Hehehe ... Tapi justru jawabanNya itu membangkitkan kembali iman percayaku kepadaNya. Ooo ... ternyata masa-masa kesulitanku ini juga terjadi atas sepengetahuan dan seijin Yesus. Dan aku memilih untuk mengambil pelajaran postifnya saja, ya.
- Kalau di masa kecilku, aku pernah mengalami rasanya jadi orang bodoh dan sakit-sakitan dan hasilnya aku jadi bisa berempati terhadap mereka dalam doa, sekarang giliran Yesus sedang mengajariku pengalaman gak punya uang supaya aku juga bisa berempati dengan mereka yang berkekurangan.
- Aku juga belajar mencukupkan diri dalam kekuranganku. Dan belajar berpikir dan bertindak kreatif bersama Yesus. Ternyata ... gak punya uang, bukan akhir dari segalanya, loh ... Zuueerr ...
- Di masa-masa kesesakanku, aku memilih tetap melayaniNya dengan berkhotbah di atas mimbar gereja. Lumayan, nih ... kalau aku diundang berkhotbah, aku masih bisa dapat pemasukan lewat pelayananku ... begitu pikirku.
- Tapi apa yang terjadi ??? Ayah yang menemaniku, memutuskan mengembalikan amplop persembahan dari pihak gereja yang mengundangku. Please, ayah ... aku butuh suntikan dana segar, nih ... hehehe ...
- Ayah bilang, kalo mau fokusku tetap melayaniNya, jangan gabungkan urusan rohani dengan materi. Toh, aku juga bukan full timer yang memang berhak menerima upahku lewat pelayanan. Bukankah Yesus sudah menjadikanku sebagai Notaris dan PPAT untuk memenuhi kebutuhan materiku ... ???
- Iya juga, sih ... akhirnya setiap mempersiapkan bahan khotbah, fokusku jadi gak sama materi yang bakal aku terima, tapi betul-betul fokus sama pelayanan kepadaNya. Terima kasih, ayah ... padahal aku sempat protes juga, tuh, hehehe ...
- Si pengusaha perkebunan masih terus berusaha mengubah keputusanku walau gak berani menghubungiku secara langsung. Karena prinsipku, gak ada lagi pembicaraan tentang aku dan dia selama dia belum bisa menerima pribadi Yesus.
- Yesus ... aku tetap manusia yang gak sempurna. Aku percaya, hanya karena kasihMu yang sempurna saja, yang sanggup membuatku menolak tawaran kelimpahan materi justru pada saat aku mengalami kekurangan materi.
- Dan di saat-saat paling krisis dalam hidupku juga, aku memilih menolak menguruskan surat-surat berharga jutaan rupiah karena bisa berakibat merugikan sesamaku di kemudian hari.
- Yesus ... Aku tau, ujian kesulitan ekonomiku telah kulewati dan sejak saat itu, aku gak pernah lagi mengalami yang namanya kekurangan ekonomi. Aku menang, bukannya karena aku mampu, melainkan aku mau menjalani masa-masa sulit itu bersama Yesus.
- Aku mau masuk dalam proses pembentukan karakterMu untuk terus disempurnakan, sehingga pada saatnya nanti, aku menjadi sempurna ... sama seperti Bapa di surga yang adalah sempurna. Amin.
- Waktu akhirnya aku memilih Krian sebagai wilayah kerja notarisku, aku pikir gak apa-apa hawanya panas dan jauh dari keluarga, yang penting aku bisa bikin akta, nih seperti yang Yesus janjikan. Tapi kenyataannya, gak sama sekali, loh ... Oow ...
- Di awal-awal kerjaku, justru gak ada klien yang datang buat akta atau menguruskan surat-surat melalui aku. Lah ... mampir ke kantorku aja, gak ada.
- Selama ini aku gak pernah tau dan merasakan apa yang namanya kesulitan keuangan. Walaupun aku bukan berasal dari keluarga yang berkelimpahan materi, tapi kalau untuk memenuhi kebutuhan hidupku saja dan keinginanku yang gak neko-neko, pasti selalu ada dan tersedia.
- Tapi aku menolak berhutang.
Karena dalam Amsal 22:7b dituliskan " ... yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi." Berarti kedudukan kita
lebih rendah dari sesama kita, dunk. Dan aku gak mau jadi budak ... karena aku orang yang
merdeka di dalam Kristus. Haleluyah.
- Aku bersyukur karena Yesus memberiku keluarga yang mengasihiku. Mereka selalu siap membantuku bahkan menawarkan tempat di kota masing-masing kalau memang aku berencana pindah dari Krian.
- Bahkan Yesus juga memberiku seorang sahabat sejak aku kuliah notariat yang kemudian sama-sama diangkat jadi notaris. Karena waktu itu sahabatku menjadi salah seorang pengurus daerah Ikatan Notaris Indonesia, dia jadi tau persis wilayah mana saja yang diperkirakan berprospek bagus karena belum ada Notaris dan PPAT-nya. Dan dia menawariku buat menyiapkan kantornya.
- Bahkan di masa-masa info hukum terbaru masih sulit didapat karena sosial media belum berkembang seperti sekarang, sahabatku juga yang memberiku fasilitas setiap ada seminar Notaris dan PPAT yang diselenggarakan di berbagai daerah di Indonesia. Poko'e aku tinggal berangkat saja karena semua sudah dia urus.
- Biaya seminarnya juga gak murah, ooii ... Lah, wong, setiap seminar diadakan di hotel berbintang, je ... dan kalo perlu mengundang presiden untuk membuka acaranya. Acaranya para Notaris dan PPAT se-Indonesia, gitu, loh .... Hehehe ...
- Padahal kalo dipikir-pikir gak ada untungnya dia bersahabat denganku. Lah, wong, dia juga lulusan cum laude dari salah satu universitas negeri terbaik di Indonesia. Malahan justru aku yang sering konsultasi kasus-kasus hukum rumit dengannya. Dia juga gak seiman denganku.
- Tapi memang, ya ... kalo Yesus sendiri yang sudah menjamah hati manusia, gak ada lagi yang namanya hitung-hitungan untung rugi dalam bersahabat.
- Aku merasa sangat kaya karena memiliki orang-orang yang menyayangiku dan begitu peduli denganku. Maafkan aku, ya ... kalo aku tetap memilih bertahan di Krian.
- Aku percaya, rancanganNya buatku adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadaku hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11). Haleluyah.
- Seseorang ingin pedekate denganku.
- Dia seorang pengusaha perkebunan, terutama kelapa sawit, karet dan coklat. Berasal dari keluarga yang sangat miskin dan sejak usia 6 tahun sudah melatih jiwa bisnisnya dengan berjualan ikan asin di pasar. Walaahh ... waktu umurku segitu, sih, paling-paling lagi mainan boneka dan masak-masakan di rumah, hehehe ...
- Selama ini aku menolak pedekate dengan orang yang beda iman, kecuali kalo untuk berteman ... aku gak membatasi pergaulanku dengan siapapun juga.
- Karena aku memandang seseorang secara utuh dari pribadinya, terlepas dari segala apa yang jadi miliknya, termasuk penampilan menarik, kekayaan maupun status sosialnya di tengah masyarakat. Bagiku dalam bergaul, yang penting kita bisa saling menghargai dan gak cuma mau memanfaatkan terus, loh, ya ... Bisa capeee, deh ...
- Jadinya aku sih, cuek, aja ... waktu akhirnya tau, dia pernah terdaftar sebagai salah satu pengusaha sukses di Indonesia.
- Kenapa harus minder ... ??? Aku, toh, anakNya Bapa di sorga
yang maha kaya. Bumi dan segala isinya ini milikNya juga, jeee ...
Hehehe ... pede abis, daahh ....
- Sebetulnya yang membuatku tertarik, di samping sikap uletnya itu, adalah karena dia memperkenalkan diri dengan nama yang sama seperti nama salah seorang tokoh dalam
Alkitab. Yang disayangi Yesus pula, hmmm ...
- Aku salah karena telah menilai seseorang dari namanya. Bukankah banyak juga dari mereka yang punya nama tokoh Alkitab tapi hatinya justru menjauh sekaligus menyangkal dan bikin malu Yesus dengan segala tindakan kriminal mereka ... ???
- Aku bersyukur karena punya Yesus yang selalu aku ikut sertakan dalam menjalani pedekate-ku. Karena kalau Yesus sendiri yang sudah ikut campur tangan di dalamnya, gak ada satupun yang bisa disembunyikan dari kita, terutama hubungan pribadinya dengan Yesus.
- Gak pake lama, waktu akhirnya keluar juga pengakuannya kalau sebenarnya dia sudah punya kepercayaan lain dan percayaku pada Yesus gak bisa dipaksakan kepadanya.
- Yesus sendiri yang kemudian memutuskan untuk segera mengakhiri pedekate tersebut. Aku gak boleh terus bersamanya. CaraNya dengan sengaja mengambil damai sejahteraNya daripadaku.
- Waduuhhh ... rasanya kacau balau banget, dah ... waktu damai sejahtera itu sempat diambil dariku. Mending gak punya uang sama sekali atau sekarat hampir mati dibanding harus kehilangan damai sejahteraNya. Rasanya seperti hidup segan, matipun gak mau, loh ...Zuueerrr ...
- Cuma sekitar 1,5 bulan pedekate dengannya, ketika aku memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan hubungan tersebut. Karena kami memang beda iman dan aku gak mau memaksakan imanku padanya. Bukankah memang kepercayaan itu gak bisa dipaksakan, tapi kudu dijalani dengan penuh keikhlasan ??? Ceilee ...
- Lalu dia menawariku kerja sama untuk ikut serta mengurusi berbagai perusahaannya, khususnya di bagian prosedur hukumnya.
- Aku tolak, dengan pertimbangan gak adanya kesamaan pola pikir dan pola tindak antara aku dengan orang yang sudah jelas-jelas menolak Yesus. (Padahal kalau dipikir-pikir, lumayan juga'kan, ya ... daripada susah payah cari klien, hehehe ...).
- Dan ... akhir kisahnya ... aku diteror 3 tahun lamanya ... Alamaaakkk ...
- Bersyukurlah aku punya Yesus, karena gak ada satupun yang dapat dilakukan manusia terhadapku tanpa seijinNya. Aku aman dalam penyertaan dan perlindunganNya yang sempurna. Haleluyah ...
- Selain ayah dan ibu, aku punya seorang paman yang kusayangi.
- Sejak kami masih kanak-kanak, pamanlah yang selalu mengantar jemput kami pulang pergi sekolah. Ssst ... sampai aku duduk di bangku kuliah Sarjana Hukum-pun, kalo ada jadwal kuliah malam hari, paman yang antar jemput aku, loh ... padahal letak kampus persis di belakang rumahku ... Hadeeeuuhhh ....
- Paman juga bodyguard kami terhadap berbagai macam ancaman gangguan dari teman-teman cowok yang nakal. Huahahaha ...
- Bagi para pengganggu, silakan pilih, dah ... mau pakai cara halus (ibu yang maju lebih dulu dengan keahlian diplomasinya menghadap kepala sekolah) atau ... mau pakai cara kasar (paman yang akan langsung bertindak di lapangan). Wow ... Intinya, kami amat sangat dilindungi oleh keluarga.
- Paman tinggi besar dan berkulit gelap, ooiii ... Paman juga senang memangkas cepak rambutnya. Itu, loh ... seperti potongan rambutnya para aparat keamanan. Aku tidak pernah takut pergi bersama paman kemanapun dan kapanpun juga. Preman jaman sekarang juga bakalan mikir-mikir, dah ... kalo mau ngadepin paman. Apalagi cuma teman sekolahku yang masih unyuk-unyuk.
- Paman juga ahlinya dalam berbagai hal ... pertukangan ... perkebunan ... permobilan ... sampai jago masak, loh ... Aku suka nasi goreng buatan paman. Hmmm ... lezaaatttt ...
- Aku belajar arti 'kasih' sesungguhnya dari seorang paman yang sangat sederhana. Pendidikannya memang gak tinggi dan dia cuma bisa duduk di kursi jemaat setiap beribadah di hari minggu. Tapi paman memilih melayani dengan langsung banyak berbuat kasih di tengah keluarga dan lingkungan sekitarnya.
- Bahkan paman memaksa tetap mengantarku memenuhi undangan khotbah di saat dokter sudah memvonisnya menderita kanker hati (sirosis) dan hanya sanggup bertahan hidup beberapa bulan saja.
- Aku tau persis rasanya kehilangan seorang yang aku sayangi sejak aku kehilangan ibu. Dan aku gak mau kehilangan paman. Yesus ... terus terang waktu itu, dalam doa, aku membujukMu bahkan memaksaMu terus menerus buat menyembuhkan paman. Paman harus sembuh ... paman gak boleh pergi dariku.
- Aku lupa ... mujizat itu miliknya Yesus ... Terserah Dia mau memberikan kepada siapa ... di mana dan kapan waktunya. Memang ada yang mendapatkan mujizat kesembuhan, tapi ada juga yang harus berpulang. Itu sudah menjadi rahasiaNya. Yang pasti, keputusanNya selalu tepat buat masing-masing kita.
- Tapi kalo kita mau tetap punya tubuh sehat sampai saatnya kita pulang kembali padaNya, ya ... itu sudah jadi bagian kita dengan terus berjuang menjalankan pola hidup dan pola makan yang sehat sepanjang hidup kita.
- Akhirnya memang aku harus tunduk pada keputusanNya. Aku gak boleh egois. Sudah sekian lamanya, aku hidup bersama paman, mendapatkan limpahan kasih, perhatian dan perlindungannya. Sekarang sudah saatnya Paman kembali kepada Yesus. Aku harus relakan Paman.
- Dan ... lagi-lagi, sama seperti ibu, pamanpun harus berpulang karena pola hidup dan pola makan yang salah. Sudah amat sangat terlambat baginya untuk memperbaiki diri dari awal. Organ-organ dalam tubuhnya sudah terlanjur rusak. Memang penyesalan seringkali selalu datang terlambat ketika semuanya sudah tidak bisa diperbaiki lagi.
- Bahkan sampai saat-saat akhir hidupnya, paman selalu menasehati teman-temannya untuk tidak meniru kebiasaan buruknya selama ini.
- Ketika kita dihadapkan kenyataan kalo seorang
yang kita kasihi menderita sakit yang bisa berujung kepada kematiannya,
seringkali kita cuma fokus berjuang bagi kesembuhannya saja tapi lupa mempersiapkan
yang bersangkutan, untuk kembali pulang kepangkuanNya.
- Bagi kita anak-anakNya, berpulang bukanlah sesuatu yang menakutkan. Lah ... wong, jelas tujuan akhirnya pulang kembali ke rumah Bapa di sorga, kok
... Kenapa harus takut ... ??? Cuma memang orang-orang yang mau ditinggalkan ini yang
seringkali masih gak rela.
- Berjuang bagi kesembuhan orang yang kita sayangi memang penting, tapi terlebih penting mempersiapkannya untuk bertemu kembali dengan Yesus di sorga. " ... TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN !" (Ayub 1: 21).
- Berburu dengan waktu gak berhenti sampai di situ saja.
- Aku harus mengikuti penelitian khusus (litsus) di Surabaya sebagai salah satu syarat pengangkatan notaris. Penelitian dibagi 2 tahap, yaitu tahap tertulis dan lisan (wawancara) dalam waktu berbeda.
- Pada tahap tertulis, kami dibagikan lembar-lembar soalnya. Waduuuhhh ... Pas aku baca, langsung puyeng mendadak, ooii ... Lah, semua pertanyaannya tentang berbagai peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia, je ... Gak pake dijelasin kronologinya lagi, cuma dicantumkan tempat dan tanggal peristiwa. Gak ada pilihan jawaban, tapi disuruh menjelaskan sendiri pendapatku tentang peristiwa tersebut.
- Lah ... gimana mau jelasin, kalo peristiwa tentang apa juga aku gak tau. Waduuuhhh ... gak bisa main tebak-tebakan, nih ...
- Maklum ... selama ini kalo koran datang setiap hari, yang aku baca cuma berita hiburannya, jeee .... Bagiku peristiwa yang terjadi di tengah-tengah bangsa ini bukan urusanku, 'kan sudah ada pemerintah? Ngapain repot-repot ngikutin ??? Hehehe ... kena batunya sekarang ...
- Akhirnya semua pertanyaannya, aku jawab gak tau aja, dah ... (karena memang benar-benar gak tau). Pengawasnya kaget begitu melihat lembar jawabanku kosong gak terisi. Dia langsung memvonis, kalo aku sudah gagal total di penelitian tertulis.
- Harapanku satu-satunya cuma pada penelitian lisan (wawancara) saja dan harus berhasil 100% atau silakan siap-siap saja buat makalah yang nanti ditentukan sama tim penelitinya. Dan itu berarti butuh tambahan waktu lagi. Padahal aku lagi dikejar-kejar batas waktu buat melengkapi berkas pengangkatanku.
- Yesus ... ampuni aku, ya ... Selama ini memang aku sudah bersalah dengan sikap masa bodohku. Bukankah firmanMu juga berkata " ... dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29 : 7b). Kelangsungan bangsa dan negara ini juga terletak di tangan anak-anakMu yang mau mengambil bagian dalam doa, walau gak terlibat secara langsung dalam menjalankan roda pemerintahan.
- Waktu yang cuma tersisa beberapa hari sebelum tahap wawancara, aku pergunakan belajar dari buku-buku lamaku semasa kuliah dan SMA dulu.
- Akhirnya datang juga hari penentuan itu. Dan ... tingkat kesulitannya sama saja seperti penelitian tertulis tempo hari. Malahan sekarang ditambah lagi beban harus benar semua jawabannya.
- Tapi emang gak percuma mengandalkan Yesus, loh ... Dia gak cuma ahli di bidang kerohanian saja, tapi di bidang ketatanegaraanpun .... Dia ahlinya, dah ...
- Semua pertanyaan dari penguji, bisa aku jawab dengan hikmat dari Yesus. Dia ingatkan kembali bahan-bahan pelajaran yang sudah aku pelajari dan ditanyakan oleh penguji. Malahan ada satu pertanyaan sulit yang hampir gak bisa aku jawab, Yesus jelaskan hubungan sebab akibatnya sekaligus dasar-dasar hukumnya seperti ditulis dalam sebuah layar besar yang bisa aku baca di alam pikiranku.
- Hasilnya ... penguji sangat puas dengan setiap jawabanku dan di akhir wawancaranya, dia sempatkan berdiri sambil menyalami aku ... selamat ... selamat ... Dan ... akhirnya ... sukseslah aku mengirimkan hasil litsusku ke departemen kehakiman sebelum batas akhir waktunya. Terima kasih, Yesus ...
- Waktu itu perekonomian negara lagi kacau balau. Pemasukan kantor bosku juga mulai kembang kempis karena
banyaknya orang asing meninggalkan Indonesia, termasuk para klien bosku.
PHK karyawan gak terhindarkan lagi, dah ... termasuk aku.
- Waktu luangku sebagai pengangguran, aku pergunakan buat mempersiapkan surat-surat sebagai syarat kelengkapan pengangkatan Notaris. Padahal juga aku belum tau, tuh ... kapan diangkatnya. Karena setauku selama ini, prosesnya bisa bertahun-tahun dan besar kecilnya dana juga tergantung dari wilayah penempatannya. Seorang teman yang waktu itu sudah jadi notaris di Kertosono, mengaku mengeluarkan dana Rp.75 juta rupiah untuk proses pengangkatannya.
- Baru saja aku menyelesaikan kelengkapan surat-surat yang diperlukan dan istirahat sebentar di Malang sebelum akhirnya cari kerja lagi, eh .... tau-tau surat pengangkatan notarisku keluar dalam waktu beberapa bulan saja dan cukup mengeluarkan dana Rp.200 ribu rupiah saja buat pemasukan kas negara.
- Hore ... akhirnya aku jadi notaris juga. Makasih, Yesus ... ini emang mujizatMu, nih ... Aku gak nyangka bakal secepat ini prosesnya dan gak pake mahal biayanya. Untungnya lagi umurku sudah memenuhi syarat pengangkatan sebagai Notaris (tapi kalo pengangkatanku sebagai PPAT, sich ... nyaris gak terjaring, tuh ... hehehe ...). Ini dia ... kecil-kecil jadi pejabat umum. Piiizzz ...
- Sejak SK (Surat Keputusan)-nya turun, aku harus segera cari kantor karena ada batas waktunya kalo gak mau SK-nya gugur. Waduuuhhh ...
- Tapi Yesus emang oke punya, dah ... Waktu aku ambil SK di Departemen Kehakiman RI, Yesus sengaja pertemukan aku dengan seorang teman yang mertuanya punya tempat di Krian. Letaknya di pinggir jalan raya, di daerah perbankan dan dulunya juga pernah ditempati salah satu bank di sana.
- Bukankah Yesus sangat bertanggung jawab dengan pilihanNya, yaa .... ??? Dan bersama Yesus, gak ada yang terjadi secara kebetulan, yaa ... ??? Haleluyah.
- Sesudah peristiwa Trisakti, aku masih tetap bekerja di Jakarta.
- Tau-tau ada info dari Departemen Kehakiman RI untuk pengajuan wilayah kerja Notaris. Aku ikutan juga daftar ke sana.
- Sebelum berangkat, so pasti doa dulu, nih ... supaya Yesus ikut campur tangan memilihkan wilayah kerja yang tepat buatku.
- Tujuan utamaku, jelas kota Malang, donk ... Tapi pas, lihat daftar tunggunya ... hiiy, ngeri ... saking banyaknya jumlah pendaftar, tuh. Pilihan alternatif lainnya, ya ... Kecamatan Lawang ... dekat sama Kota Malang, udaranya sejuk dan ... bisa mondar-mandir pulang setiap harinya. Asyik ...
- Cuma, pas petugasnya menyebut Kecamatan Krian ... lah, kok, jadi pilihan alternatif juga, ya ... ??? Aku betul-betul gak tau. Padahal cuma beberapa kali aku lewat sana, berhubung dulu ada saudaraku yang pernah kerja di pabrik kertas di daerah sana.
- Akhirnya, toh, aku harus memilih juga buat dituliskan dalam permohonan wilayah kerjaku.
- Aku sudah siap-siap menuliskan kecamatan Lawang, waktu aku mendengar suara dari hati nuraniku yang memberiku pilihan ... mau bikin akta atau mau dingin-dinginan ... ???
- Yesus ... aku langsung protes waktu itu. Krian jauh dari Malang, loh ... udaranya panas dan terutama lagi, aku gak punya siapa-siapa di sana. Tapi lagi-lagi suara itu kembali terdengar ... mau bikin akta atau mau dingin-dinginan ... ???
- Waduuhh ... lemas banget rasanya. Cuma'kan tugasnya notaris memang bikin akta, ya dan aku juga belum jadi lansia yang hobbynya menikmati hari tua di tempat berhawa sejuk. Akhirnya dengan setengah hati, aku menuliskan Kecamatan Krian sebagai pilihan wilayah kerjaku, cuma satu-satunya pula. Huk ... huk ... huk ...
- Waktu itu aku masih kerja di salah satu gedung bertingkat 30 di kawasan Sudirman-Jakarta Selatan.
- Sebelum kejadian Mei 1998 meletus, setiap kali aku mau sarapan pagi, selalu saja batal, gak tau kenapa. Akhirnya seharian aku gak makan.
- Yesus, ada apa dan kenapa, ya, sampai Yesus pengen aku puasa ... ??? Yesus gak jawab. Akhirnya aku hanya bisa doa dalam bahasa roh saja setiap harinya, lah ... wong, aku juga gak tau, je ... tujuan puasaku buat apa. Hal itu terus berlangsung berhari-hari sampai 6 bulan lamanya.
- 13 Mei 1998. Waktu itu jam 2 siang. Aku merasa suasana sekitar kantor gak seperti biasanya. Kemarin sudah ada penembakan mahasiswa Universitas Trisakti oleh oknum aparat. Aku dengar, hari ini rencananya mahasiswa dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang akan turun ke jalan. Padahal letak UKI cuma beberapa blok saja dari gedung perkantoranku.
- Dari jendela di lantai 7 kantorku, aku melihat mobil tentara sudah berderet-deret menurunkan banyak tentara. Suasananya persis seperti mau perang.
- Waktu itu ada tiga pilihan buatku ... tetap bertahan dalam gedung atau keluar dari Jakarta (ngungsi sementara ke rumah saudara di Cikampek) atau justru pulang ke rumah keluarga ibu. Aku bingung, Yesus ... gak tau harus milih yang mana ...
- Tapi Yesus justru gerakkan aku buat pulang ke rumah, yang berarti juga harus menembus kerusuhan yang sedang terjadi antara aparat, mahasiswa dan masyarakat. Wow ...
- Lalu lintas sudah kacau, kendaraan cuma bisa jalan merambat. Hujan batu dan gas air mata di mana-mana. Office boy membantuku memberhentikan sebuah bis jurusan Blok M yang searah pulang ke rumah. Itupun karena banyak jalan ditutup, akhirnya bis yang membawaku malah berputar-putar dan di kawasan Rasuna Said, justru seluruh penumpang diturunkan dengan alasan bisnya mau dimasukkan garasi.
- Aku harus kembali memberhentikan bis lainnya kalo gak mau pulang jalan kaki. Padahal dari arah kejauhan, sebuah metro mini hijau yang penuh berisi orang dan ramai meneriakkan kata-kata berbau sara sedang menuju ke arahku.
- Tau-tau, sebuah bis patas melaju kencang mendahului metro mini hijau tersebut dan berhenti persis di depanku. Aku langsung naik, gak peduli jurusannya Kampung Rambutan sekalipun yang berarti gak searah tujuanku pulang ke rumah.
- Macet di mana-mana sampai malam. Aku sengaja duduk dekat jendela, berharap melihat ada bis jurusan Blok M di sekitarku. Harapanku jadi kenyataan, bis jurusan Blok M itu benar-benar jalan merambat menjajari bis yang aku tumpangi. Aku segera pindah ke sana.
- Terima kasih, Yesus ... aku percaya, gak ada yang terjadi secara kebetulan. Engkau yang sudah atur segala sesuatunya sampai aku bisa pulang kembali ke rumah dengan selamat. Seluruh keluargaku di Jakartapun Engkau jagai dan lindungi. Gerombolan perusuh yang hendak membakar pasar Blok A dekat rumah, juga berhasil dihalau aparat setempat.
- Rupanya memang Yesus persiapkan aku dalam doa dan puasa berbulan-bulan lamanya untuk menghadapi peristiwa itu. Yesus ijinkan aku kembali mengalami ancaman maut. Tapi bedanya sekarang, bersama Yesus, aku gak panik dan takut sama sekali.
- Ternyata keputusan pulang kembali ke rumah memang pilihan yang paling tepat, walaupun secara logika justru yang paling dihindari karena harus menembus kerusuhan yang sedang terjadi. Karena kalo aku tetap bertahan di dalam gedung, aku benar-benar bisa puasa seminggu penuh gara-gara kegiatan bisnis di kawasan Sudirman diliburkan. Dan kalo aku memilih keluar dari Jakarta, aku sudah gak bisa lagi menulis kesaksian hidup ini.
- "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah" (Filipi 1 : 21-22). Amin.
- Aku kembali kerja di Jakarta. Kali ini di salah satu kantor notaris kawasan Sudirman dengan klien umumnya warga negara asing sekaligus dengan penanaman modal asingnya juga.
- Hampir setahun sejak kepergian ibu dan bos menolak memberiku ijin pulang Malang buat mengadakan acara sehubungan kepergian ibu. Alasannya karena memang aku belum setahun bekerja dan berdasarkan peraturan tenaga kerja, bos tidak harus memberikan cuti kepada karyawannya.
- Aku marah, Yesus. Bukankah selama ini bos juga gak ngikutin peraturan tenaga kerja?
- Selama aku kerja, aku sudah diperlakukan gak adil sehubungan dengan waktu kerjaku. Kalo para asisten lainnya kerja mulai hari Senin sampai dengan Jumat mulai jam 8 pagi sampai dengan jam 5 sore, trus Sabtunya libur, tapi aku juga tetap kerja di hari Sabtu mulai jam 8 pagi sampai dengan jam 1 siang karena bos ingin ada asisten yang masuk kantor mendampingi para staff.
- Aku sudah banyak dirugikan sehubungan dengan jam kerjaku. Selama ini aku diam saja karena mau minta ijin pulang sehubungan peringatan kepergian ibu.
- Akhirnya aku menghadap bos. Okelah ... aku akan ikuti peraturan tenaga kerja dan batal minta ijin pulang, setiap Sabtu aku juga tetap masuk kerja, tapi aku minta bos mengikuti waktu kerja yang sudah ditentukan peraturan tenaga kerja.
- Sejak hari itu, di saat sesama asisten masih kerja sampai jam 5 sore, aku sendirian yang sudah ngeluyur pulang jam 4 sore.
- Aku belajar, Yesus ... selain berdoa, kadang kita juga perlu bertindak untuk mengubah nasib kita. Asalkan itu benar, Yesus sendiri yang jadi pembelaku.
- Semasa ibu hidup, biasanya hal-hal seperti itu sudah menjadi bagiannya, tapi sekarang Yesus sendiri yang mengambil alih peran ibu dalam membelaku dengan memberikan keberanian dan kata-kata hikmat untuk meminta apa yang menjadi hakku. Haleluyah.
- Ibu adalah inspirasi hidupku. Aku pengen seperti ibu.
- Tapi waktu ibu divonis dokter kena diabetes, untuk pertama kalinya aku gak mau seperti ibu. Persis dah, seperti iklan pemanis buatan yang ada di televisi.
- Awal mulanya semasa itu, pabrik kami bersebelahan persis dengan pabrik salah satu merek es krim terkenal di jamannya. Dan di antara tembok pabrik kami cuma dibatasi pintu kecil yang semakin memudahkan pesan antar es krim. Ibu bisa menghabiskan bercup ... cup ... es krim sekali makan. Hiiyy ... Di samping itu, ibu gagal menjalankan pola makan dan pola hidup yang sehat dan keadaannya terus memburuk.
- Aku menyaksikan, penyakit itu gak langsung membuat kesehatan kita ambruk. Tapi dia memperburuk perlahan-lahan dari tahun ke tahun tergantung dari baik buruknya kita memperlakukan tubuh kita. Ternyata kita juga harus bekerja sama dengan Yesus buat mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, loh, termasuk menjaga kesehatan tubuh kita sendiri.
- Kalo ada sesama yang jatuh sakit dan butuh didoakan, aku akan lebih dulu mencari tau penyebabnya. Karena tidak semua penyakit didoakan langsung sembuh. Lah ... kalo kitanya sendiri yang gak bisa mengendalikan diri, berarti bukannya si penyakit yang harus didoain, donk ... tapi kitanya yang harus didoain supaya bisa mengendalikan diri.
- Sesudah menyelesaikan pendidikan spesialis notariatku, aku khusus mendampingi ibu menjalani hari-harinya di rumah sakit.
- Waktu keadaan ibu memburuk, ibu bilang kalo semalam seperti bermimpi dibawa masuk ke dalam sebuah lorong yang sempit dan gelap oleh satu makhluk bertanduk. Makin jauh, lorongnya semakin sempit dan gelap. Ibu sangat ketakutan dan menolak diajak pergi. Akhirnya ibu dikembalikan lagi seperti dilempar dari atap plafon ke tempat tidur.
- Kami sekeluarga terus mendoakan ibu.
- Beberapa hari kemudian, ibu kembali bilang, kalo semalam ibu dibawa pergi lagi. Sekarang ke tempat yang sangat indah. Ada begitu banyak nyanyian dan tari-tarian dengan pakaian warna-warni yang begitu indah. Ibu sangat senang di sana.
- Aku bilang sama ibu, kalo nanti ibu dibawa lagi ke tempat menyenangkan itu, kami rela melepas ibu dan jangan cemaskan ayah dan anak-anak, karena Yesus sendiri yang akan selalu ada bersama kami. Dan akhirnya ... ibu memang pergi dan tidak pernah kembali lagi.
- Tidak gampang hidup dengan saudara-saudara yang punya berbagai keunggulan fisik dan kelebihan kemampuan. Semasa usia sekolah kami, setiap kami terima rapor, ayah tidak akan menanyai kami naik kelas atau tidak. Tapi masuk ranking satu atau tidak.
- Ayah selalu menyemangati kami untuk selalu menjadi yang terbaik di dalam segala bidang. Alasan Ayah, kalaupun meleset jadi yang terbaik, masih mending jadi yang baik, tapi'kan tidak sampai jadi yang jelek. He ... he ... he ... betul juga, sih ...
- Kalau saudara-saudaraku yang lain mencapai yang terbaik itu dengan mudah, tapi aku mendapatkannya dengan perjuangan. Aku ingat, setiap kali ada ulangan, biarpun aku sudah belajar keras malam harinya, tapi besoknya jam 2 pagi aku sudah bangun lagi buat belajar. Menurutku, kalau mau dapat nilai bagus, ya ... harus belajar, bukannya menghalalkan berbagai macam cara, termasuk ngerpek, misalnya.
- Ibu tau perjuanganku menjadi yang terbaik dan dia menghargainya dengan menempatkan aku sebagai yang teristimewa di hatinya.
- Secara tidak langsung ibu memperkenalkan kasih Bapa sorgawi yang sesungguhnya kepadaku. Aku yang sebetulnya tidak layak dikasihi karena segenap kekurangan dan kelemahanku, tapi kalau aku mau berjuang dan bukannya menyerah pada keterbatasanku, ternyata toh, aku bisa juga mendapatkan kasihnya.
- Bukankah sesungguhnya kitapun tidak layak mendapatkan kasih Bapa Sorgawi karena segenap dosa-dosa kita ... ??? Tapi dengan pengorbananNya di atas kayu salib, asalkan kita mau percaya dan menerimaNya sebagai Juru Selamat, kitapun layak disebut sebagai anak-anakNya ... ??? Itulah kasih karunia Tuhan. Haleluyah.
- Ibuku wanita super. Dia punya banyak talenta.
- Ibuku seorang ibu rumah tangga yang hebat. Aku ingat, semasa kecil kami, ibu berperan sebagai tukang masak,
tukang jahit sekaligus tukang potong rambut bagi kami anak-anaknya.
- Ibu juga wanita karier yang handal. Dia seorang pemimpin, baik dalam menjalankan organisasi gereja maupun saat membantu ayah menjalankan perusahaan. Dia jago pidato sekaligus ahli diplomasi.
- Dia juga seorang pengkhotbah yang pandai mengulas cerita-cerita Alkitab, yang aku percaya dengan pertolongan Yesus juga, sanggup dibuatnya begitu hidup dan menyentuh hati para jemaat.
- Padahal pendidikan ibu cuma sampai kelas 2 sekolah dasar saja, loh ... karena ibu berasal dari keluarga yang gak terlalu menganggap penting sekolah tinggi-tinggi, apalagi buat seorang anak perempuan.
- Ssst .... Ibu juga seorang primadona. Dia cantik dan pandai bergaul. Kalo pas aku godain ayah, kok ya, ayah gak minder sama banyaknya jumlah pesaing buat memenangkan hati ibu ... Ayah cuma mesam-mesem sambil bilang ... lah, wong sudah terlanjur cinta, je ... (cinta, ni ye ...). Lagipula siapa tau, yang dicari ibu dari seorang cowok ada sama ayah (pe de abis, ni ye ...).
- He ... he ... he ... ternyata betul juga, loh .... Akhirnya ibu justru memilih ayah. Padahal waktu bertemu ibu, ayah bukan siapa-siapa dan gak punya apa-apa. Lah, wong datang ke Jakarta juga cuma bawa 2 lembar baju yang dimasukkan besek gara-gara gak punya koper, je ...
- Aku menyiapkan diri ikut ujian penerimaan masuk mahasiswa baru program spesialis notariat di Unair-Surabaya. Termasuk juga mencari info sumbangan gedungnya.
- Ada seorang temanku yang dulu sama-sama kuliah di Fakultas Hukum dan sudah terlebih dulu diterima masuk di sana. Dia bilang, gak usah terpengaruh sama omongan orang. Lah ... wong dia saja, bisa masuk cuma bayar sumbangan gedung 300 ribu.
- He ... he ... he ... aku kok, lupa, ya ... waktu temanku itu diterima'kan sudah setahun yang lalu. Masa, sih ... aku tulis sumbangan gedungnya 300 ribu juga. Ayah cuma bisa bengong mendengarnya. Bakalan daftar lagi tahun depan, nih ...
- Lah ... sepupu kecilku saja yang masuk taman kanak-kanak, sumbangan gedungnya jutaan rupiah, je ... masa iya ... aku yang mau masuk program spesialis cuma ratusan ribu rupiah, sih ...
- Puji Tuhan ... Ternyata akhirnya, aku diterima juga dengan sumbangan gedung 300 ribu. Tapi waktu giliran ibu bayar ke bank, justru jadi geger gara-gara gak ada sumbangan gedung yang ratusan ribu rupiah, semua berbunyi jutaan rupiah.
- Pas aku sudah jadi mahasiswa di sana, aku cari temanku itu. Maunya, sich ... berterima kasih kalo gara-gara infonya juga, aku jadi gak perlu bayar sumbangan gedung jutaan rupiah. Eh ... lah, kok, dia juga sama bengong gak percayanya seperti teman-teman di bank waktu itu.
- Boleh, donk, Yesus ... kalo akhirnya aku jadi punya prasangka buruk. Sebetulnya, berapa, sih ... batasan minimal sumbangan gedungnya waktu aku diterima ? Aku pengen tau, Yesus. Penasaran juga, nih. Itupun kalo boleh tau, ya ...
- Akhirnya, Yesus pertemukan aku sama kakak senior yang memegang daftar sumbangan gedung pada jamannya dia masuk. Dia selisih 2 angkatan di atasku dan pada waktu itu saja, sumbangan gedungnya minimal 500 ribu.
- Benar seperti kata firman Tuhan .... " Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan ... " (Kejadian 50 : 20). Haleluyah.
- Aku masih kerja di Jakarta pas ada pengumuman penerimaan mahasiswa baru program studi spesialis notariat Universitas Airlangga di Surabaya.
- Ibu yang mendaftarkanku dan aku tinggal minta ijin bos saja buat ikutan ujiannya.
- Pas waktu itu, teman kerjaku minta ijin lebih dulu buat melanjutkan lagi kuliah notarisnya di Universitas Indonesia. Dan hasilnya ... ditolak mentah-mentah. Dia disuruh pilih ... mau terus kerja atau mau kuliah lagi. Bosku gak mau asistennya nyambi kuliah sambil kerja.
- Aku langsung stress. Lah ... wong, yang mau kuliah sama-sama di sekitar Jakarta saja ditolak, apalagi aku yang mau kuliah di Surabaya. Mau bikin alasan apa, ya ... ??? Kalo aku omong terus terang, di-PHK sudah pasti, diterima masuk juga belum tentu.
- Kalo bohong, walah ... kalo sampai bosku investigasi, bisa ketauan, nih. Tapi katanya firman Tuhan, kan gak boleh bohong, y ... He ... he ... he ... terserah Yesus saja, deh ... kalo sampe aku di-PHK gara-gara omong jujur.
- Akhirnya aku minta ijin juga sama bosku. Barang-barang di mejaku sudah kuberesi, siap angkat kaki begitu vonis PHK dijatuhkan.
- Tapi apa yang terjadi ... ??? Bosku cuma bisa bengong gak bisa omong dan dengan gampang banget ijin dikeluarkan. Malah aku dikasih tambahan hari cuti khusus buat belajar.
- Emang benar, ya ... waktu kita berusaha buat mentaati firmanNya, Dia sendiri yang campur tangan menjadi pembela buat kita. Hati sekeras apapun sanggup dilembutkannya. Yang tadinya ogah ngasih ijin buat temanku diubahnya jadi berbelas kasihan buatku. Haleluyah.
- AKU SUDAH KERJA DI JAKARTA SEKALIGUS BERIBADAH DI SALAH SATU
GEREJA DI JAKARTA.
- DARI ALKITAB, AKU JUGA TAU TENTANG BAPTISAN. TAPI AKU GAK MERASA PERLU BURU-BURU MELAKUKANNYA.
- SAMPAI SUATU HARI DI GEREJA ADA PENGUMUMAN BAPTISAN AIR. AKU
MASIH MENCOBA MENUNDANYA LAGI SAMPAI AKHIRNYA YESUS MENEGURKU LEWAT SUARA HATI
NURANIKU : BAPTIS ... BAPTIS ... KALO GAK DIBAPTIS, BAGAIMANA AKU BISA
MENCURAHKAN BERKAT-BERKATKU YANG MELIMPAH ATASMU ... ??? AKHIRNYA,
JADI JUGA DAH, AKU DIBAPTIS.
- TERUS TERANG, SEJAK AKU BERTOBAT, AKU JARANG BANGET SAKIT ... SAMPE LUPA YANG NAMANYA SAKIT ITU SEPERTI APA. HE ... HE ... AMIT-AMIT, DAH ...
- DI SAMPING ITU DENGAN MENERIMA BAPTISAN ROH KUDUS, AKU JUGA BISA CURHAT SAMA YESUS LEWAT BAHASA ROH, DI MANA SAJA ... KAPAN SAJA ... BAHKAN AKU BISA MINTA HIKMATNYA WAKTU AKU LAGI KONSELING HUKUM SAMA KLIEN ATAUPUN LAGI KONSELING ROHANI SAMA SAUDARA SEIMAN.
- Ternyata ngobrol sama Yesus itu semudah kita ngobrol sama sesama kita, loh ... Yesus itu pribadi yang simpel dan gampang sekali ditemui. Siapa bilang ketemu dan ngobrol sama Yesus itu cuma bisa dilakukan pas saat teduh saja ... ? Dengan cara memuji dulu ... menyembah dulu ... harus berlutut ... harus begini ... harus begitu ... Gaklah ... aku sudah membuktikannya, loh ...
- Aku coba memberanikan diri ngajakin Yesus ngobrol dengan bahasa sehari2 secara rutin setiap hari dan rutin juga baca Alkitab setiap hari. Eh ... ternyata, didenger dan dijawabin juga, loh ... pas aku lagi bengong ataupun lagi sibuk.
- Wow ... surprise rasanya ...
- Aku membandingkan seperti kalo kita setiap hari bergaul sama sesama kita ... sering ngobrol sama sesama kita ... Bukankah kemudian kita jadi mengenal pribadinya dan sekaligus mengenali suaranya sekalipun kita lagi berjauhan ... ???
- Begitu juga bergaul dengan Yesus. Kalo suara itu berasal dari Yesus pasti gak pernah bertentangan sama firmanNya. Karena itulah kita juga harus baca Alkitab supaya kita bisa bedakan mana suaraNya dan mana yang bukan. Bisa saja'kan itu suara hati kita sendiri atau suara si jahat yang mencoba mencuri kesempatan.
- AKU BERTOBAT MENJELANG MASA-MASA PERSIAPAN SKRIPSI AKHIRKU DI FAKULTAS HUKUM.
- LEWAT SEORANG TEMAN YANG MENDOAKAN AKU, AKU MENDAPAT NAMA TOKOH ALKITAB ... HANA.
- WAKTU ITU AKU MENOLAK GARA-GARA PERNAH PUNYA TEMAN BERNAMA HANA, TAPI TOMBOY BANGET. HE ... HE ... MAKLUM, WAKTU ITU AKU GAK PERNAH BACA ALKITAB. AKU GAK TAU APA-APA TENTANG TOKOH HANA.
- AKU KEMBALI DIDOAKAN DAN MENDAPAT NAMA DEBORA.
- SESUDAH AKU BERTOBAT DAN TAU TOKOH-TOKOH TERSEBUT DARI ALKITAB ... TERNYATA ARTI ROHANIAH KEDUA NAMA TERSEBUT DIGENAPI DALAM HIDUPKU.
- HAYOOO ... SIAPA BILANG, APALAH ARTINYA SEBUAH NAMA .... ??? TERNYATA NAMA SANGAT BERPERAN PENTING, LOH ...
- PANTAS SAJA, AKU GAK PERNAH BISA SEMBUNYI DI BELAKANG LAYAR, AKHIRNYA, TOH, SELALU TAMPIL JUGA. HE ... HE ... HE ... LAGIPULA SIAPA SURUH NOLAK WAKTU DIKASIH NAMA HANA YANG BISA BERDOA DI TEMPAT TERTUTUP, MALAH MINTA NAMBAH NAMA DEBORA PULA. NABIAH SEKALIGUS HAKIM ... OOOiiii ....
- AKU JUGA TAU DARI ALKITAB, KALO TERNYATA ADA ROH KUDUS YANG BISA MENOLONG ROHKU BERDOA KEPADA BAPA DI SORGA SAAT JASMANIKU SUDAH GAK SANGGUP LAGI BERDOA DENGAN KATA-KATA YANG BISA DIMENGERTI MANUSIA.
- WAKTU ITU SELURUH KELUARGAKU SUDAH BERTOBAT.
- SUATU SAAT IBU MENGAJAK KAMI SEKELUARGA BERDOA BERSAMA, KHUSUS MENDOAKAN ADIKKU.
- ADIKKU CANTIK. KALO PAS DIA LAGI JALAN SENDIRIAN, SELALU ADA SAJA COWOK YANG NGAJAK KENALAN,
YANG NGANTERIN PULANG, TRAKTIR MAKAN SAMPE BELIIN BARANG BERHARGA.
WOW ...
- WAKTU ITU ADA SEORANG PENGUSAHA KAYU YANG LAGI PEDEKATE SAMA ADIKKU. SO PASTI DIA GAK SEIMAN DAN DARI HASIL INVESTIGASI IBUKU, SIKAP ADIKKU BERUBAH DRASTIS SEJAK BERKENALAN DENGANNYA.
- IBUKU KHAWATIR, SI PENGUSAHA PAKE ILMU GUNA-GUNA.
- AKHIRNYA KAMI SEKELUARGA DOA BERSAMA. HATIKU HANCUR SAKING SEDIHNYA MELIHAT IBUKU MENANGIS. AKU GAK BISA LAGI BERDOA DENGAN KATA-KATA DAN PADA SAAT ITULAH YESUS MEMBERIKU ROH KUDUSNYA.
- AKU GAK TAU LAGI OMONG APA SAMA YESUS. TAPI ADA KELEGAAN BEGITU KAMI SELESAI BERDOA BERSAMA DAN PUJI TUHAN ... GAK LAMA SESUDAH ITU, HUBUNGAN ADIKKU DENGAN SI PENGUSAHA BERAKHIR. GAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI YESUS. EMANG YESUS OKE PUNYA, DAH ...
- HOREE ... AKU MULAI KERJA.
- LEWAT KELUARGAKU DI JAKARTA, AKU DITERIMA KERJA DI KANTOR NOTARIS. HE ... HE ... HE ... AKU SENENG BUKAN GARA-GARA DAPET KERJAAN, LOH ... TAPI GARA-GARA BAKAL TINGGAL DI JAKARTA LAGI. SIK ... ASYIK ... BANYAK PILIHAN HIBURAN, BISA HEPI-HEPI, NICH .... BEGITU PIKIRKU. SAYANG DISAYANG, DEH ... GAK SESUAI DENGAN HARAPAN SEMULA .... UHUK ... UHUK ...
- TERNYATA KLIEN NOTARISKU MULAI DARI KELUARGA PRESIDEN JAMAN ITU, PARA PEJABAT PENTING NEGARA, PENGUSAHA KONGLOMERAT SAMPE KALANGAN SELEBRITI. DENGAN GOLONGAN KLIEN SEMACAM ITU, PEMBUATAN AKTAPUN DITUNTUT SEMPURNA.LAH, YA ... KOK, AKU DIDAPUK JADI SALAH SATU ASISTEN NOTARIS PULA. WAAAHHH ... AKU YANG GAK PUNYA PENGALAMAN KERJA SEBELUMNYA, DIGEMBLENG HABIS-HABISAN SETIAP HARI, DAH ...
- DITAMBAH PULA, KERJAANKU GAK BOLEH SALAH. HIIYY ... KALO NOTARISKU LAGI MURKA, TUKANG PARKIR DI DEPAN SAMPE PEMBANTU YANG LAGI NYUCI BAJU DI BELAKANG, DENGER SEMUA, DAH ... DITAMBAH MALUNYA ITU, LOH ... DIOMELIN DI DEPAN KLIEN PULA.
- WAH ... KAYAKNYA KALI INI AKU BETUL-BETUL STRESS BANGET, DAH ....
- DAN SETIAP PAGI, AKU NGADU PADAMU, YESUS ... KOK, BERAT BEGINI, YAH ... KERJAANKU ... ??? LAH, WONG ... TEMENKU YANG SAMA-SAMA KERJA DI KANTOR NOTARIS JUGA, TAPI KOK, GAK SEBERAT DAN SEPARAH INI, SICH.... GEMBLENGANNYA ....GIMANA KALO AKU PINDAH KERJA AJA, YAA ... ???
- TAPI ENGKAU DIAM SAJA GAK BEREAKSI.
- AKU INI STRESS BANGET, LOH ... , YESUS ... KALO GAK PERCAYA, COBA LIHAT KARTU STRESSKU INI. TRUS AKU TEKAN IBU JARIKU KERAS-KERAS PADA KARTU STRESS, BERHARAP MUNCUL WARNA MERAH DI ATASNYA SEBAGAI PERTANDA TINGKAT STRESS YANG TINGGI.
- EALAAHH .... TERNYATA BUKAN WARNA MERAH YANG MUNCUL, JUSTRU WARNA BIRU PEKAT YANG TERCETAK SEBAGAI PERTANDA KALO TINGKAT KESEHATAN MENTALKU DALAM KEADAAN SANGAT BAGUS.
- YESUS ... AKU MERASA ENGKAU MESAM-MESEM SENDIRI MENYAKSIKAN WAJAHKU YANG JADI BENGONG. HAYOOO ... APANYA YANG STRESS, LAH WONG HASIL UJI STRESSNYA SANGAT BAGUS GITU, LOH ....
- UHUK ... UHUK ... POKOKNYA AKU GAK TAHAN LAGI, DAH ... KAPAN, DONK, BERAKHIRNYA ... ???
- YESUS TETAP DIAM SAMPAI AKHIRNYA DALAM WAKTU RELATIF SINGKAT AKU DIANGKAT JADI NOTARIS. TERNYATA ENGKAU SENGAJA MEMBIARKANKU DIGEMBLENG HABIS-HABISAN TIAP HARI, KARENA WAKTUKU SEBAGAI ASISTEN NOTARIS GAK BAKAL LAMA DAN ENGKAU MAU AKU MENYERAP ILMU SEKALIGUS PRAKTEK SEBANYAK-BANYAKNYA DARI NOTARISKU.
- AH ... MAAPIN AKU, YA ... YESUS ... KARENA SUDAH MENUDUHMU GAK PEDULI PADAKU ....
- SEBETULNYA AKU PENGEN JADI DOKTER.
- SEJAK BANGKU SEKOLAH, AKU SUDAH MEMPERSIAPKAN DIRI SEBAIK-BAIKNYA. TAPI ENTAH KENAPA, AKU SELALU GAK BERHASIL LOLOS DALAM UJIAN MASUK DI BEBERAPA PERGURUAN TINGGI.
- AKU SERING KALI BERTANYA SAMA YESUS, KENAPA, YA ... AKU GAK DIBOLEHIN JADI DOKTER ... ??? 'KAN ASYIK PUNYA, LOH ... BISA SEMBUHIN ORANG DARI SAKITNYA.
- PADA WAKTUNYA, YESUS KASIH TAU JUGA JAWABANNYA.
- SUATU SAAT SEORANG KLIENKU YANG SEDANG SAKIT PARAH TANDA TANGAN AKTA DI DEPANKU. BEGITU DIA PULANG, AKU JADI MENANGIS SEDIH. IYA ... YA ... BAGAIMANA MAU JADI DOKTER YANG TIAP HARI NANGANI ORANG SAKIT, TERMASUK YANG SAKIT PARAH, KALO BARU KETEMU SAMA SEORANG KLIEN SAJA YANG SUDAH GAK PUNYA HARAPAN HIDUP, SUDAH CUKUP MEMBUATKU BEGITU LARUT DALAM KESEDIHAN SEPERTI ITU ... ???
- PADA SAAT YANG SAMA, BERTURUT-TURUT YESUS INGETIN KEMBALI DI MASA-MASA SEKOLAHKU DULU. BUKANKAH KALO ADA TEMEN KARIBKU YANG JATUH SAKIT, AKU JADI IKUTAN SEDIH SAMPE BERHARI-HARI ??? BAHKAN MELIHAT IBUKU MENANGIS SAJA, SUDAH CUKUP MEMBUATKU JATUH SAKIT.
- AKU JADI SADAR, YESUS ... MUNGKIN SECARA KEILMUAN, AKU SANGGUP JADI SEORANG DOKTER, TAPI JIWAKU YANG GAK SANGGUP MENJALANINYA.
- MAKASIH, YA ... YESUS ... EMANG ENGKAU YANG TAU PERSIS KEMAMPUANKU DAN ENGKAU GAK PERNAH SALAH PILIH, DAH ...
- AKU JUGA GAK TAU, KENAPA LALU JADI MEMILIH MENDAFTAR MASUK FAKULTAS HUKUM, YA ... ??? PADA GELOMBANG PENDAFTARAN TERAKHIR DAN PADA HARI TERAKHIR SERTA JAM-JAM TERAKHIR PULA. HE ... HE ... HE ... FRUSTASI, NI YEEEE ..... LAH, WONG YANG ADA DI PIKIRANKU CUMA JADI DOKTER AJA, JEEE ....
- AKU DITERIMA MASUK DI SANA DAN TERUS BERTAHAN SAMPAI AKHIRNYA MENYELESAIKAN PENDIDIKAN SARJANA HUKUMKU.
- TERNYATA ... HOBBY MENULISKU BAKAL DIBUTUHKAN NANTINYA WAKTU BUAT AKTA DAN SURAT-SURAT PENTING LAINNYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN DISIPLIN ILMU HUKUMKU.
- AKU PERCAYA, WAKTU ITU YESUS SENDIRI YANG SUDAH PEGANG KENDALI UNTUK PILIHAN PENDIDIKANKU. DIA GAK PERNAH SALAH PILIH DAN SO PASTI JUGA SESUAI DENGAN KEMAMPUANKU. HALELUYAH ...
- Waktu itu aku belum terpikir
pelayanan mimbar di gereja, khususnya berkhotbah. Cuma Yesus sudah kasih bocoran
sedikit-sedikit, akan dibawa ke mana pelayananku selanjutnya.
- Waktu aku mengagumi seorang pendeta cewe, yang keren penampilannya sekaligus keren juga penyampaian khotbahnya, Engkau berkata melalui hati
nuraniku, kalo suatu saat nanti aku yang bakalan berdiri di sana (di atas mimbar).
- Pernah juga waktu aku mengeluh
padaMu, kenapa aku harus mengalami semua beban ini, Yesus …. Engkau berkata melalui hati nuraniku,
supaya nantinya aku gak cuma asal omong di atas mimbar, tapi sekaligus
pernah merasakan juga seperti apa yang dirasakan jemaat. Bukankah yang bisa merasakan artinya kehilangan ... kesedihan ... kekurangan ... kelemahan ... adalah mereka yang pernah mengalaminya terlebih dulu ???
- Hehehe
... iya ... ya ... bukankah semasa aku belum bertobat, aku selalu kesal
denger pendeta berkhotbah sambil ngedumel sendiri : Enak aja, pendeta
ngomong ... gak pernah ngalamin sendiri, sich .... (kena batunya, ni ye ...).
- Bahkan sejak aku masih duduk di bangku sekolahpun, rupanya Engkau sudah mempersiapkan aku untuk pelayanan mimbar. Aku juga gak tau, kenapa teman-teman sekelasku yang biasanya jadi biang ribut, mendadak jadi begitu tenang mendengarkan waktu aku diminta tugas berpidato di depan kelas. Waktu itu keherananku cuma aku simpan dalam hati, Yesus ....
- Terus terang, sebetulnya waktu aku mendaftar di salah
satu Sekolah Tinggi Teologia di Jakarta, maksudku cuma
pengen nambah ilmu saja, loh ... supaya bisa melayani sesama lebih baik lagi.
- O'ya ... saudara-saudaraku sudah bertobat lebih dulu dibanding aku yang kemudian setelah aku bertobat, disusul oleh kedua orang tuaku.
- Ada satu pertanyaan yang selalu ditanyakan orang tuaku, kenapa mereka harus mengalami kebangkrutan dan sakit penyakit justru di masa-masa kejayaan pelayanan mereka ??? Aku juga gak ngerti, Yesus ... dan tempatku bertanya cuma kepadaMu saja.
- Melalui
khotbah seorang pendeta, Engkau menjelaskan urutan prioritas yang tepat dalam
menjalani kehidupan kekristenan adalah Yesus, keluarga baru pelayanan. Dan sejak saat itu, orang tuaku gak pernah bertanya lagi.
- Aku berterima kasih kepada pendetaku dan juga kepada teman pendeta orang tuaku di Malang serta para pihak yang sudah memberi kepercayaan padaku untuk melayani sebagai seorang pengkhotbah, baik di atas mimbar maupun dalam persekutuan orang-orang percaya.
- Pengalamanku supaya kita tau talenta kita apa adalah dengan menerima saja setiap pelayanan yang ditawarkan kepada kita. Kita harus berani mencobanya.
- Percayalah … kalo memang itu
talenta kita, kita akan menjalani pelayanan itu dengan suka cita biarpun harus
deg-degan dulu …. harus berkeringat dingin dulu, tetapi toh, ada rasa ketagihan pengen melakukannya lagi begitu kita menyelesaikannya. Dan jemaatpun merasa suka cita setiap tau kita yang kebagian jadwal melayani tersebut. Hehehe .... jadi bukan cuma pengen-pengennya kita aja, loh ...
- Begitu juga dalam pelayanan berkhotbah … kita harus bisa mengikat ketertarikan jemaat, mulai dari awal sampai
akhir topik khotbah kita.
- Kalo sampe jemaat sibuk sendiri
dengan kegiatannya di tengah-tengah khotbah kita, termasuk juga hobby banget mondar mandir ke
kamar mandi, lah … itu tandanya kita sudah gagal membuat mereka tertarik dengan
materi khotbah kita. Dan … siap-siap saja, deh … jumlah jemaat akan berkurang setiap
kita yang kebagian melayani khotbah. Ah … sedihnya ….
- Emang bener, Yesus … ternyata ada hal-hal di luar batas kemampuanku
sebagai manusia yang membuatku tetap saja memerlukanMu, termasuk dalam
hal mengampuni. Soalnya setiap ingat kejadian itu, aku jadi sangat marah,
Yesus …
- Sebetulnya aku ogah mengampuni, loh … tapi karena Engkau yang memerintahkan ... yah ... aku jadi mau, deh ....
- Eh, ternyata betul, loh… modalnya memang cuma mau aja, selanjutnya Yesus yang mampuin aku buat mengampuni.
- Sesuai janjiku, sejak peristiwa itu, aku mulai rajin beribadah dan
langsung terlibat melayani. Mimpin pujian, juga ikutan pentas nyanyi dan
drama. Kalo dulu aku sering nulis di majalah dinding sekolah,
sekarang juga nulis artikel dan cerpen (cerita pendek) rohani di majalah gereja.
- Yesus, sebetulnya aku pengen juga loh, punya pembimbing rohani. Kayaknya enak betul, ya…. bisa punya tempat curhat sekaligus yang bisa membimbingku dalam hal-hal kerohanian. Maklum … pengetahuan dan pengalamanku bersamaMu’kan minim sekali ….
- Aku ingat, waktu itu Engkau menjawabku kalo tangan kananMu sendiri yang akan membimbingku ….
- Aku jadi terdiam …. Wow ... bagaimana, ya … rasanya dibimbing langsung sama Yesus ???
- AKU CUKUP PUAS DENGAN HIDUPKU.
- WALAUPUN
KELUARGAKU GAK BERKELIMPAHAN MATERI,
TAPI AKU CUKUP PUAS MENDAPATKAN KASIH SAYANG, PERHATIAN DAN PERLINDUNGAN
DARI ORANG TUAKU.
- AKU JUGA
SELALU PUNYA TEMAN-TEMAN AKRAB DARI BERBAGAI SUKU, AGAMA DAN RAS. KAMI BERBAGI
SUKA DAN DUKA BERSAMA.
- DAN … SSSTT .... AKUPUN TETAP SAJA PADA KEBIASAAN LAMAKU, BARU INGAT
YESUS KALO ADA TUGAS KEROHANIAN KRISTEN. KALI INI TUGASNYA MERINGKAS KHOTBAH
PENDETA, BARULAH AKU MUNCUL DI GEREJA.
- AKU KRISTEN ‘ABU-ABU’. NGAKUNYA, SICH …. ORANG KRISTEN, TAPI
GAK PERNAH DOA, BACA ALKITAB, KE GEREJA … APALAGI. BAHKAN AKU PERNAH MENANTANG YESUS : "TUNJUKKANLAH KEPADAKU KALO MEMANG ENGKAU BENAR-BENAR SATU-SATUNYA TUHAN DAN JURU SELAMAT ...." AH, BETAPA KURANG AJARNYA AKU, YESUS .....
- SAMPAI SUATU SAAT, AKU TERTARIK MENGIKUTI SEBUAH STUDI
BANDING KE JAKARTA. DARI SEKIAN BANYAK PESERTANYA, CUMA ADA 3 CEWEK WNI
KETURUNAN TERMASUK AKU.
- KEMARAHAN ANTAR RAS TAU-TAU MUNCUL DI ANTARA PANITIA.
- SETAUKU, GARA-GARA SEORANG TEMAN CEWEK WNI KETURUNAN MENOLAK
CINTA SEORANG PANITIA DENGAN KATA-KATA YANG SANGAT MENYAKITKAN HATI.
- DITAMBAH LAGI SEORANG TEMAN CEWEK WNI KETURUNAN LAINNYA
BEREBUT TEMPAT TIDUR DENGAN PERSERTA LAINNYA, DENGAN SIKAP AROGANNYA.
- SEHARIAN ITU, AKU SUDAH GAK NYAMAN DENGAN SIKAP MEREKA. MALAMNYA AKU
GAK BISA TIDUR. DARI BALIK PINTU KAMARKU, AKU MENDENGAR SENDIRI
PEMBICARAAN YANG GAK MENYENANGKAN DI ANTARA MEREKA.
- INTINYA …. HARUS DILAKUKAN ‘PEMBERESAN’ TERHADAP KAMI BERTIGA.
- AKU MULAI KETAKUTAN … AKU MENCOBA MELARIKAN DIRI DARI
TEMPAT KAMI MENGINAP. SATU-SATUNYA JALAN KELUAR CUMA ADA DI DAERAH KAMAR MANDI
YANG TERASNYA TERBUKA, TAPI TEMBOKNYA TERLALU TINGGI.
- LAGIPULA DI BALIK TEMBOK ITU, JUSTRU BERDERET PAVILIUN KAMAR
TIDUR MEREKA. AKU MASIH SEMPAT MENDENGAR SUARA-SUARA MEREKA DARI ARAH SANA,
SEPERTI SIBUK MEMPERSIAPKAN SEGALA SESUATU. TAPI SELANJUTNYA … HENING SAMA
SEKALI.
- AKU SANGAT KETAKUTAN, YESUS …. APAKAH MEREKA BENAR-BENAR AKAN MENJALANKAN EKSEKUSINYA … ???
- SAKING TAKUTNYA, AKUPUN MEMANGGIL NAMAMU MINTA TOLONG DAN SEKALIGUS BERJANJI PADAMU, YESUS …. KALO SAMPAI AKU LUPUT DARI ANCAMAN MAUT INI, AKU MAU BERIBADAH KEPADAMU.
- LALU AKU DIGERAKKAN MASUK KE DALAM SALAH SATU KAMAR MANDI PALING POJOK SENDIRI DARI ANTARA SEKIAN BANYAK DERETAN KAMAR MANDI DI SANA.
- GAK LAMA SESUDAH ITU, SESEORANG NAIK KE ATAS TEMBOK DENGAN MEMBAWA KARUNG GONI, SAPU IJUK DAN RANTAI SEPEDA. PAS AKU MENDONGAK MELIHATNYA, DIAPUN MELIHATKU JUGA. DIA BEGITU KAGET SEKALI.
- AKU GAK TAU, APA YANG DIA LIHAT, YESUS … TAPI DIA SEPERTI ORANG YANG BARU TERSADAR DARI MIMPINYA DAN LANGSUNG MENYEBUT NAMA ALLAHNYA.
- EKSEKUSI DIBATALKAN DAN GAK LAMA KEMUDIAN GEGER SENGAJA DICIPTAKAN DI DAERAH KAMAR MANDI. MEREKA MENIUPKAN ISUE … KALO AKU STRESS BERAT DAN TAU-TAU MENYAKSIKAN ORANG JALAN-JALAN DI ATAS TEMBOK. HEHEHE … ALAMAAAKK ….