Minggu, 09 Maret 2014

YESUS MEMANGGILKU MELAYANI (6)

  • Waktu itu aku belum terpikir pelayanan mimbar di gereja, khususnya berkhotbah. Cuma Yesus sudah kasih bocoran sedikit-sedikit, akan dibawa ke mana pelayananku  selanjutnya.
  • Waktu aku mengagumi seorang pendeta cewe, yang keren penampilannya sekaligus keren juga penyampaian khotbahnya, Engkau berkata melalui hati nuraniku, kalo suatu saat nanti aku yang bakalan berdiri di sana (di atas mimbar).
  • Pernah juga waktu aku mengeluh padaMu, kenapa aku harus mengalami semua beban ini, Yesus …. Engkau berkata melalui hati nuraniku, supaya nantinya aku gak cuma asal omong di atas mimbar, tapi sekaligus pernah merasakan juga seperti apa yang dirasakan jemaat. Bukankah yang bisa merasakan artinya kehilangan ... kesedihan ... kekurangan ... kelemahan ... adalah mereka yang pernah mengalaminya terlebih dulu ???  
  • Hehehe ... iya ... ya ... bukankah semasa aku belum bertobat, aku selalu kesal denger pendeta berkhotbah sambil ngedumel sendiri : Enak aja, pendeta ngomong ... gak pernah ngalamin sendiri, sich .... (kena batunya, ni ye ...).
    • Bahkan sejak aku masih duduk di bangku sekolahpun, rupanya Engkau sudah mempersiapkan aku untuk pelayanan mimbar. Aku juga gak tau, kenapa teman-teman sekelasku yang biasanya jadi biang ribut, mendadak jadi begitu tenang mendengarkan waktu aku diminta tugas berpidato di depan kelas. Waktu itu keherananku cuma aku simpan dalam hati, Yesus .... 
    • Terus terang, sebetulnya waktu aku mendaftar di salah satu Sekolah Tinggi Teologia di Jakarta, maksudku cuma pengen nambah ilmu saja, loh ... supaya bisa melayani sesama lebih baik lagi.
    • O'ya ... saudara-saudaraku sudah bertobat lebih dulu dibanding aku yang kemudian setelah aku bertobat, disusul oleh kedua orang tuaku.
    • Ada satu pertanyaan yang selalu ditanyakan orang tuaku, kenapa mereka harus mengalami kebangkrutan dan sakit penyakit justru di masa-masa kejayaan pelayanan mereka ??? Aku juga gak ngerti, Yesus ... dan tempatku bertanya cuma kepadaMu saja.
    • Melalui khotbah seorang pendeta, Engkau menjelaskan urutan prioritas yang tepat dalam menjalani kehidupan kekristenan adalah Yesus, keluarga baru pelayanan. Dan sejak saat itu, orang tuaku gak pernah bertanya lagi.
    • Aku berterima kasih kepada pendetaku dan juga kepada teman pendeta orang tuaku di Malang serta para pihak yang sudah memberi kepercayaan padaku untuk melayani sebagai seorang pengkhotbah, baik di atas mimbar maupun dalam persekutuan orang-orang percaya.
    • Pengalamanku supaya kita tau talenta kita apa adalah dengan menerima saja setiap  pelayanan yang ditawarkan kepada kita. Kita harus berani mencobanya.
    • Percayalah … kalo memang itu talenta kita, kita akan menjalani pelayanan itu dengan suka cita biarpun harus deg-degan dulu …. harus berkeringat dingin dulu, tetapi toh, ada rasa ketagihan pengen melakukannya lagi begitu kita menyelesaikannya. Dan jemaatpun merasa suka cita setiap tau kita yang kebagian jadwal melayani tersebut. Hehehe .... jadi bukan cuma pengen-pengennya kita aja, loh ...
    • Begitu juga dalam pelayanan berkhotbah … kita harus bisa mengikat ketertarikan jemaat, mulai dari awal sampai akhir topik khotbah kita.
    • Kalo sampe jemaat sibuk sendiri dengan kegiatannya di tengah-tengah khotbah kita, termasuk juga hobby banget mondar mandir ke kamar mandi, lah … itu tandanya kita sudah gagal membuat mereka tertarik dengan materi khotbah kita. Dan … siap-siap saja, deh … jumlah jemaat akan berkurang setiap kita yang kebagian melayani khotbah. Ah … sedihnya ….


    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar