Selasa, 01 Juli 2014

YESUS MENDAMPINGIKU SAAT TRAGEDI TRISAKTI (17)

  • Waktu itu aku masih kerja di salah satu gedung bertingkat 30 di kawasan Sudirman-Jakarta Selatan.
  • Sebelum kejadian Mei 1998 meletus, setiap kali aku mau sarapan pagi, selalu saja batal, gak tau kenapa. Akhirnya seharian aku gak makan.
  • Yesus, ada apa dan kenapa, ya, sampai Yesus pengen aku puasa ... ??? Yesus gak jawab. Akhirnya aku hanya bisa doa dalam bahasa roh saja setiap harinya, lah ... wong, aku juga gak tau, je ... tujuan puasaku buat apa. Hal itu terus berlangsung berhari-hari sampai 6 bulan lamanya.
  • 13 Mei 1998. Waktu itu jam 2 siang. Aku merasa suasana sekitar kantor gak seperti biasanya. Kemarin sudah ada penembakan mahasiswa Universitas Trisakti oleh oknum aparat. Aku dengar, hari ini rencananya mahasiswa dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang akan turun ke jalan. Padahal letak UKI cuma beberapa blok saja dari gedung perkantoranku.
  • Dari jendela di lantai 7 kantorku, aku melihat mobil tentara sudah berderet-deret menurunkan banyak tentara. Suasananya persis seperti mau perang.
  • Waktu itu ada tiga pilihan buatku ... tetap bertahan dalam gedung atau keluar dari Jakarta (ngungsi sementara ke rumah saudara di Cikampek) atau justru pulang ke rumah keluarga ibu. Aku bingung, Yesus ... gak tau harus milih yang mana ...
  • Tapi Yesus justru gerakkan aku buat pulang ke rumah, yang berarti juga harus menembus kerusuhan yang sedang terjadi antara aparat, mahasiswa dan masyarakat. Wow ...
  • Lalu lintas sudah kacau, kendaraan cuma bisa jalan merambat. Hujan batu dan gas air mata di mana-mana. Office boy membantuku memberhentikan sebuah bis jurusan Blok M yang searah pulang ke rumah. Itupun karena banyak jalan ditutup, akhirnya bis yang membawaku malah berputar-putar dan di kawasan Rasuna Said, justru seluruh penumpang diturunkan dengan alasan bisnya mau dimasukkan garasi.
  • Aku harus kembali memberhentikan bis lainnya kalo gak mau pulang jalan kaki. Padahal dari arah kejauhan, sebuah metro mini hijau yang penuh berisi orang dan ramai meneriakkan kata-kata berbau sara sedang menuju ke arahku.
  • Tau-tau, sebuah bis patas melaju kencang mendahului metro mini hijau tersebut dan berhenti persis di depanku. Aku langsung naik, gak peduli jurusannya Kampung Rambutan sekalipun yang berarti gak searah tujuanku pulang ke rumah.
  • Macet di mana-mana sampai malam. Aku sengaja duduk dekat jendela, berharap melihat ada bis jurusan Blok M di sekitarku. Harapanku jadi kenyataan, bis jurusan Blok M itu benar-benar jalan merambat menjajari bis yang aku tumpangi. Aku segera pindah ke sana.
  • Terima kasih, Yesus ... aku percaya, gak ada yang terjadi secara kebetulan. Engkau yang sudah atur segala sesuatunya sampai aku bisa pulang kembali ke rumah dengan selamat. Seluruh keluargaku di Jakartapun Engkau jagai dan lindungi. Gerombolan perusuh yang hendak membakar pasar Blok A dekat rumah, juga berhasil dihalau aparat setempat.
  • Rupanya memang Yesus persiapkan aku dalam doa dan puasa berbulan-bulan lamanya untuk menghadapi peristiwa itu. Yesus ijinkan aku kembali mengalami ancaman maut. Tapi bedanya sekarang, bersama Yesus, aku gak panik dan takut sama sekali.  
  • Ternyata keputusan pulang kembali ke rumah memang pilihan yang paling tepat, walaupun secara logika justru yang paling dihindari karena harus menembus kerusuhan yang sedang terjadi. Karena kalo aku tetap bertahan di dalam gedung, aku benar-benar bisa puasa seminggu penuh gara-gara kegiatan bisnis di kawasan Sudirman diliburkan. Dan kalo aku memilih keluar dari Jakarta, aku sudah gak bisa lagi menulis kesaksian hidup ini. 
  • "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah" (Filipi 1 : 21-22). Amin.

YESUS MENGAMBIL ALIH PERAN IBU DALAM HIDUPKU (16)

  • Aku kembali kerja di Jakarta. Kali ini di salah satu kantor notaris kawasan Sudirman dengan klien umumnya warga negara asing sekaligus dengan penanaman modal asingnya juga.
  • Hampir setahun sejak kepergian ibu dan bos menolak memberiku ijin pulang Malang buat mengadakan acara sehubungan kepergian ibu. Alasannya karena memang aku belum setahun bekerja dan berdasarkan peraturan tenaga kerja, bos tidak harus memberikan cuti kepada karyawannya.
  • Aku marah, Yesus. Bukankah selama ini bos juga gak ngikutin peraturan tenaga kerja? 
  • Selama aku kerja, aku sudah diperlakukan gak adil sehubungan dengan waktu kerjaku. Kalo para asisten lainnya kerja mulai hari Senin sampai dengan Jumat mulai jam 8 pagi sampai dengan jam 5 sore, trus Sabtunya libur, tapi aku juga tetap kerja di hari Sabtu mulai jam 8 pagi sampai dengan jam 1 siang karena bos ingin ada asisten yang masuk kantor mendampingi para staff.  
  • Aku sudah banyak dirugikan sehubungan dengan jam kerjaku. Selama ini aku diam saja karena mau minta ijin pulang sehubungan peringatan kepergian ibu.  
  • Akhirnya aku menghadap bos. Okelah ... aku akan ikuti peraturan tenaga kerja dan batal minta ijin pulang, setiap Sabtu aku juga tetap masuk kerja, tapi aku minta bos mengikuti waktu kerja yang sudah ditentukan peraturan tenaga kerja. 
  • Sejak hari itu, di saat sesama asisten masih kerja sampai jam 5 sore, aku sendirian yang sudah ngeluyur pulang jam 4 sore.
  • Aku belajar, Yesus ... selain berdoa, kadang kita juga perlu bertindak untuk mengubah nasib kita. Asalkan itu benar, Yesus sendiri yang jadi pembelaku. 
  • Semasa ibu hidup, biasanya hal-hal seperti itu sudah menjadi bagiannya, tapi sekarang Yesus sendiri yang mengambil alih peran ibu dalam membelaku dengan memberikan keberanian dan kata-kata hikmat untuk meminta apa yang menjadi hakku. Haleluyah.