YESUS MELUPUTKANKU (12)
- Aku menyiapkan diri ikut ujian penerimaan masuk mahasiswa baru program spesialis notariat di Unair-Surabaya. Termasuk juga mencari info sumbangan gedungnya.
- Ada seorang temanku yang dulu sama-sama kuliah di Fakultas Hukum dan sudah terlebih dulu diterima masuk di sana. Dia bilang, gak usah terpengaruh sama omongan orang. Lah ... wong dia saja, bisa masuk cuma bayar sumbangan gedung 300 ribu.
- He ... he ... he ... aku kok, lupa, ya ... waktu temanku itu diterima'kan sudah setahun yang lalu. Masa, sih ... aku tulis sumbangan gedungnya 300 ribu juga. Ayah cuma bisa bengong mendengarnya. Bakalan daftar lagi tahun depan, nih ...
- Lah ... sepupu kecilku saja yang masuk taman kanak-kanak, sumbangan gedungnya jutaan rupiah, je ... masa iya ... aku yang mau masuk program spesialis cuma ratusan ribu rupiah, sih ...
- Puji Tuhan ... Ternyata akhirnya, aku diterima juga dengan sumbangan gedung 300 ribu. Tapi waktu giliran ibu bayar ke bank, justru jadi geger gara-gara gak ada sumbangan gedung yang ratusan ribu rupiah, semua berbunyi jutaan rupiah.
- Pas aku sudah jadi mahasiswa di sana, aku cari temanku itu. Maunya, sich ... berterima kasih kalo gara-gara infonya juga, aku jadi gak perlu bayar sumbangan gedung jutaan rupiah. Eh ... lah, kok, dia juga sama bengong gak percayanya seperti teman-teman di bank waktu itu.
- Boleh, donk, Yesus ... kalo akhirnya aku jadi punya prasangka buruk. Sebetulnya, berapa, sih ... batasan minimal sumbangan gedungnya waktu aku diterima ? Aku pengen tau, Yesus. Penasaran juga, nih. Itupun kalo boleh tau, ya ...
- Akhirnya, Yesus pertemukan aku sama kakak senior yang memegang daftar sumbangan gedung pada jamannya dia masuk. Dia selisih 2 angkatan di atasku dan pada waktu itu saja, sumbangan gedungnya minimal 500 ribu.
- Benar seperti kata firman Tuhan .... " Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan ... " (Kejadian 50 : 20). Haleluyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar